DASAR-DASAR STRATEGI BELAJAR-MENGAJAR

DASAR-DASAR STRATEGI BELAJAR-MENGAJAR

A.    KONSEP DASAR STRATEGI BELAJAR-MENGAJAR

Yang dimaksud strategi secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu garis besar haluan bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Menurut Newman dan Logan, dalam bukunya yang berjudul Strategy policy and Central Management (1971:8); strategi dasar dari setiap usaha akan mencakup keempat hal sebagai berikut.

  1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (output) seperti apa yang harus dicapai dan menjadi sasaran (target) usaha itu, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
  2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic ways) manakah yang dipandang paling ampuh (effective) guna mencapai sasaran tersebut.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) mana yang akan ditempuh sejak titik awal sampai kepada titik akhir dimana tercapainya sasaran tersebut.
  4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolak ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) yang bagaimana dipergunakan dalam pengukuran dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha tersebut. 

Kalau kita terapkan dalam konteks pendidikan, keempat unsur strategi dasar tersebut akan sejalan sekali dengan keempat tahapan langkah utama dari pola dasar PPSI, yang dapat digambarkan sebagai berikut.

  1. Menetapkan spesifikasi  dan kualifikasi perubahan profil perilaku dan pribadi siswa.
  2. Memilih sistem pendekatan belajar-mengajar utama yang dipandang paling efektif guna mencapai sasaran tersebut.
  3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar-mengajar  (teaching methods) yang bagaimana dipandang paling efektif dan efisien serta produktif.
  4. Menetapkan norma-norma dan batasan minimum ukuran keberhasilan atau ukuran baku keberhasilan.

B.     MENETAPKAN SASARAN KEGIATAN BELAJAR-MENGAJAR DALAM RANGKA MENGIDENTIFIASI ENTERING BEHAVIOR SISWA.

a.      Sasaran-Sasaran  Kegiatan Belajar-Mengajar

Setiap kegiatan belajar-mengajar itu selalu bertujuan. Seperti telah kita pelajari pula bahwa tujuan tersebut bertahap dan berjenjang mulai dari sangat operasional dan konkrit (TIK dan TIU) kurikuler, institusional, nasional sampai kepada yang bersifat universal. Kalau dipandang dari segi operasional, belajar-mengajar dapatdiartikan sebagai sasaran-sasaran terdekat (jangka pendek), jangka menengah (inter medier), dan jangka panjang (tujuan akhir, ultimate goals).

Yang jelas tujuan yang satu tidak seharusnya terlepas dari tujuan lain. Yang dimaksud dengan sasaran dan tujuan itu adalah pada akhirnya harus diterjemahkan kedalam cirri-ciri atau sifat-sifat wujud perilaku dan pribadi dari manusia yang dicita-citakan. Pada tingkat tujuan dan sasaran akhir yang universal, kita membayangkan pribadi idola sebagai warga dunia yang minimal harus memiliki kecakapan membaca dan menulis (literacy document UNESCO). Kalau ditinjau dari segi pandangan hidup atau agama tertentu, masih pula taraf sasaran AKHIR INI, kita membayangkan umat manusia sebagai hamba ALLAH Tuhan Yang Maha Esa, yang minimal memiliki rasa kasih sayang satu sama lainnya dan percaya akan keberadaan  Maha Pencipta alam semesta. Pada tingkat nasiaonal, tujuan atau sasaran itu terbayang pada kita sebagi warga Negara yang baik. Bagi warga Negara Amerika (N.E.A, 1938:41) yang menganut paham demokasi sebagai falsafah hidupnya menegaskan bahwa sistem pendidikannya harus melahirkan para warga negaranya yang memiliki empat kemampuan, kecakapan dan sifat utama, yaitu:

1)      Self realization (mewujudkan dan mengembangkan bakatnya seoptimal mungkin);

2)      Human relationship (hubungan antarinsan);

3)      Economic efficiency (efisiensi ekonomi)

4)      Civil responsibility (tanggung jawab warga Negara)

Sedangkan bagi bangsa Indonesia, yang menetapkan pancasila sebagai pandangan hidupnya, maka sudah selayaknya sasaran sistem pendidikannya diarahkan kepada pembentukan warga Negara yang cukup untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan sila-sila:

1)      Ketuhanan Yang Maha Esa

2)      Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

3)      Persatuan Indonesia

4)      Kerakyatan Yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

5)      Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

b.      Entering Behavior Siswa

Tingkat dan jenis karakteristik perilaku siswa yang telah dimilikinya pada saat akan memasuki kegiatan belajar-mengajar inilah yang dimaksudkan dengan entering behavior. Entering behavior ini akan dapat kita identifikasi dengan berbagai cara, antara lain:

1)      Secara tradisional, telah lajim para guru memulai dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan mengenai bahan yang telah diberikan terdahulu sebelum menyajikan bahan baru.

2)      Secara inovatif, guru-guru tertentu pada berbagai lembaga pendidikan yang telah dimiliki atau mampu mengembangkan instrumen pengukuran prestasi belajar secara memadai, sudah mulai dengan mengadakan pre-test sebelum mereka memulai dengan program kegiatan belajar-mengajarnya.

Dengan diketahuinya gambaran tentang entering behavior, siswa ini akan memberikan banyak sekali bantuan kepada guru, antara lain:

1)      Untuk mengetahui seberapa jauh terdapatnya kesamaan individual antarsiswa dalam taraf kesiapanya, kematangannya, serta tingkat penguasaan dari pengetahuan dan keterampilan dasar sebagai landasan bagi penyajian bahan baru;

2)      Dengan diketahuinya disposisi perilaku siswa tersebut, akan dapat dipertimbangkan dan dipilih bahan, prosedur, teknik, dan alat bantu belajar-mengajar yang sesuai;

3)      Dengan membandingkan nilai dari per-test dengan nilai hasil, guru akan memperoleh indikator petunjuk seberapa jauh atau seberapa banyak perubahan perilaku itu telah terjadi pada siswa.

Mengingat hakikat perubahan perilaku dalam belajar itu dapat merupakan penambahan (pengayaan), peningkatan (pendalaman) hal-hal baru (pengetahuan, keterampilan, sikap, dan sebagainya) terhadap yang lama yang telah dimilki atau dikuasai siswa. Maka sekurang-kurangnya ada tiga dimensi dari entering behavior itu yang perlu diketahui guru, ialah:

1)      Batasan-batasan cakupan ruang lingkup materi pengetahuan yang telah dimiliki dan dikuasai siswa;

2)      Tingkatan dan urutan tahapan materi pengetahuan, dan terutama kawasan pola-pola sambutan atau kemampuan yang telah dicapai dan dikuasai siswa;

3)      Kesiapan dan kematangan fungsi-fungsi psikomotorik, proses-proses kognitif; pengalaman, mengingat, berfikir, afektif, emosional, motivasi, dan kebiasaan

C.    POLA-POLA BELAJAR SISWA

a. Mengidentifikasi Pola-pola Belajar Siswa

Dengan memperhatikan entering behavior (termasuk tahapan-tahapan perkembangan perilaku dan pribadi siswa), terutama yang bersangkutan dengan aspek-aspek kognitifnya, Gagne (Lefrancois 1975:114-120) mengkategorikan pola-pola belajar siswa ke dalam delapan tipe di mana yang satu merupakan persyaratan bagi yang lainya/yang lebih tinggi hierarkinya.

1)      Tipe 1: Signal Learning (belajar signal atau tanda, isyarat). Tipe belajar ini menduduki tahapan hierarki (yang paling dasar). Jadi tidak menuntut prasyarat, tetapi merupakan prasyarat bagi tipe belajar lainnya yang lebih tinggi.

2)      Tipe 2: Stimulus-Respons Learning (belajar stimulus respons, sambut rangsang). Kalau tipe 1 di atas dapat digolongkan ke dalam jenis belajar (classical condition) (Pavlov), maka tipe belajar 2 termasuk kedalam operant or instrumental condition (Kible, 1961) atau belajar dengan trial and error (Thorndike). Kondisi yang diperlukan untuk dapat berlangsungnya tipe belajar ini ialah faktor reinforcement. Jarak waktu antara stimulus pertama dan berikutnya amat penting. Semakin singkat tertundanya S-R pertama dan berikutnya semakin baik bagi terbentuknya reinforcement.

3)      Tipe 3: Chaining (mempertautkan) dan tipe 4: Verbal Asociation (asosiasi verbal). Kedua tipe belajar ini setaraf, ialah belajar menghubungkan satuan ikatan S-R yang satu dengan yang lainnya. Tipe 3 berkenaan dengan aspek-aspek perilaku psikomotorik, sedangkan tipe 4 berkenaan dengan aspek-aspek belajar verbal.

4)      Tipe 5: Descrimination Learning (belajar mengadakan perbedaan). Dalam tahap belajar ini, siswa mengadakan diskriminasi (seleksi pengujian) diantara dua perangsang atau sejumlah (multiple, kalau lebih dari 2) stimulus yang diterimanya kemudian memilih pola-pola sambutan yang dipandangnya lebih sesuai.

5)      Tipe 6: Concept Learning (belajar konsep, pengertian). Dengan diperolehnya kemahiran mengadakan diskriminasi atas pola-pola S-R itu, siswa pada tipe 6 belajar mengidentifikasi perasaan-perasaan karakteristik dari sejumlah S-R tersebut. Kondisi utama yang diperlukan bagi proses berlangsungnya belajar tipe ini ialah terkuasainya kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya.

6)      Tipe 7: Rule Learning (belajar membuat generalisasi, hukum-hukum). Pada tingkat ini siswa belajar mengadakan kombinasi dari berbagai konsep (pengertian) dengan mengoprasikan kaidah-kaidah logika formal (induktif, deduktif, analisis, sintesis, asosiasi, diferensiasi, komparasi, dan kausalitas), sehingga siswa dapat membuat konklusi (kesimpulan) tertentu yang mungkin selanjutnya dapat dipandang sebagai rule (prinsip, dalil, aturan, hukum, kaidah, dan sebagainya).

7)      Tipe 8: Problem Solving (belajar memecahkan masalah) pada tingkat ini siswa belajar merumuskan dan memecahkan masalah (memberikan respons terhadap rangsangan yang menggambarkan atau membangkitkan situasi problematik), dengan menggunakan berbagai rule yang telah dikuasainya.

b. Memilih Sistem Belajar-Mengajar (Pengajaran)

dewasa ini, para ahli teori belajar telah mencoba menggambarkan secara pendekatan atau sistem pengajaran atau proses belajar-mengajar. Diantara berbagai sistem pengajaran yang banyak menarik perhatian orang akhir-akhir ini ialah Enquiry-Discovery approach, expository approach, master learning, dan humanistic education.

1)      Enquiry-Discovery Learning (belajar mencari dan menemukan sendiri).

Dalam sistem     belajar-mengajar ini, guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuknya yang final. Siswalah yang diberikan kesempatan untuk mencari dan menemukanya sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan pemecahan masalah. Secara garis besar prosedurnya sebagai berikut.

a)      Stimulasi. Guru mulai dengan bertanya atau mengatakan persoalan, atau menyuruh siswa membaca atau mendengarkan uraian yang memuat permasalahan.

b)      Perumusan masalah siswa diberi kesempatan mengidentifikasi berbagai permasalahan yang relevan sebanyak mungkin.

c)      Pengumpulan data. Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar atau tidak hipotesis itu, siswa diberikan kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan dengan jelas, melakukan telaah literatur, mengamati objeknya, mewawancari orang sumber, mencoba (uji-coba) sendiri dan sebagainya.

d)     Analisis data. Semua informasi (hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya) itu diolah (dicek diklasifikasikan, ditabulasikan, bahkan kalau perlu dihitung dengan cara tertentu) serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaa tertentu.

e)      Verifikasi. Berdasarkan hasil pengolahan data dan tafsiran atas informasi yang ada tersebut, pertanyaan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau dengan kata lain, terbukti atau tidak.

f)       Generalisasi. Tahap selajutnya, berdasarkan hasil verifikasi tadi, siswa belajar menarik generalisasi atau kesimpulan tertentu.  Sistem belajar-mengaja ini dikembangkan oleh Bruner (Lefrancois, 1975:121-126).

2).  Expository Teaching

Dalam sistem ini, guru menyajikan bahan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematik, dan lengkap sehingga siswa tinggal menyimak dan mencernanya secara teratur dan tertib. Secara garis besar prosedurnya ialah sebagai berikut.

a)      Persiapan. Guru menyiapkan bahan selengkapnya secara sistematik dan rapi.

b)      Pertautan. Guru bertanya atau memberikan uraian singkat untuk mengarahkan perhatian siswa kepada materi yang telah diajarkan.

c)      Penyajian. Guru menyajikan dengan cara memberi ceramah atau menyuruh siswa membaca bahan yang telah dipersiapkan.

d)     Evaluasi. Guru bertanya dan siswa menjawab sesuai bahan yang dipelajari atau siswa disuruh menyatakan kembali dengan kata-kata sendiri pokok-pokok yang telah dipelajari. Sistem ini dikembangkan oleh Ausubel (Lefrancois 1975:126-130).

3). Master Learning (Belajar Tuntas)

Apakah benar bahan yang telah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya oleh guru untuk satu periode (masa waktu) belajar tertentu itu dapat dikuasai oleh siswa? Hasil dari berbagai studi menunjukan bahwa hanya sebagian kecil siswa tertentu yang mampu menguasai sebagian besar (90%-100%) dari bahan yang disajikan oleh guru. Yang lainya (sebagian besar) bervariasi antara 50%-80%.

Dengan bakat (aptitude) oleh Caroll (Gage and Berliner, 1975:578) diartikan sebagai waktu ialah waktu yang diperlukan oleh siswa untuk mencapai taraf penguasaan bahan secara memadai seperti yang ditetapkan, disamping sebagai indikator peramal taraf penguasaan yang akan dicapai siswa setelah menjalani proses belajar pada waktu yang lamanya telah disediakan.

Atas dasar itu, Caroll dan rekan-rekannya (bloom, Block) berasumsi bahwa setiap siswa pada dasarnya kalau diberikan kesempatan belajar dengan mempergunakan waktu yang sesuai dengan yang diperlukannya, mungkin saja mencapai taraf penguasaan seperti yang dicapai oleh rekan-rekannya (dengan waktu terbatas, seperti yang disediakan).

Dengan demikian, taraf atau tingkatan belajar (degree of learning) pada hakikatnya merupakan fungsi dari proposi waktu yang disediakan untuk belajar (time allowed for learning) dengn waktu yang diperlukan untuk belajar (time needed for learning) oleh siswa yang bersangkutan.

Akan tetapi, Caroll dengan rekan-rekannya tidak menyangkal ada faktor dominan lain yang berpengaruh pula atas taraf penguasaan belajar itu antara lain kualitas pengajaran dan taraf kemampuan siswa untuk memahami pengajaran itu. Di samping itu, faktor motivasi juga amat berpengaruh.

Oleh karena itu, kalau kita mengharapkan siswa dapat mencapai taraf penguasaan atas bahan pengajaran tertentu (misalnya, minimal 60%), bahan pelajaran harus dipersiapkan secara sempurna. Begitu juga instrument evaluasi atau pengukuran hasil belajarnya harus sudah dipersipakan.

4)      Humanistic Education

Baik expository maupun mastery learning, keduanya bertolak dari anggapan atau harapan bahwa siswa itu pada akhirnya harus menguasai bahan tertentu, seperti yang telah diterapkan oleh guru atau penyusun program yang bersangkutan. Sedangkan didalam kenyataan kemampuan dasar (IQ dan uptituted) siswa yang bersifat herediter itu tidak kita sangkal menunjukan variasi yang bersifat individual sehingga tidak mungkin semua siswa akan mencapai tingkat penguasaan pelajaran yang sama.

Oleh karena itu muncul satu gerakan teori belajar yang menitiberatkan pada upaya membantu siswa agar ia sanggup mencapai perwujudan dirinya sesuai dengan kemampuan dasar dan keunikan yang dimilikinya. Gerakan ini pada dasarnya bertolak dari prinsip-prinsip dasar teori kepribadian oleh Carl Rogers (Lefrancois:1975:137-154).

Cara pendekatanya, sebenarnya masih bersifat enquiry discovery based approaches. Karakteristik utama metode ini, antara lain bahwa guru hendaknya tidak membuat jarak yang tidak terlalu tajam dengan siswa. Hendaknya menempatkan diri berdampingan dengan siswa sebagai siswa senior yang selalu siap menjadi orang sumber atau konsultan atau berbicara kalau memang benar-benar dirasakan perlu harus bicara (Lawrence Stenhouse, 1976). Sasaran akhir dari proses belajar mengajar menurut paham ini ialah self actualization yang seoptimal mungkin dari setiap siswa.

c.       Pengorganisasian Satuan Kelompok Belajar Siswa

Memperhatikan berbagai cara pendekatan atau sistem belajar mengajar seperti tersebut diatas, Gage dan Berliner (1975:447-450), juga Norman MacKenzie dan rekan-rekannya (UNESCO, 1972:126) menyarankan pengorganisasian kelompok belajar siswa kedalam susunan sebagai berikut.

1)      N=1. Pada situasi ekstrem, kelompok belajar mungkin hanya terdiri atas seorang siswa, atau seorang siswa bekerja individual saja. Metode belajar dengan kelompok siswa tunggal ini, mugkin dapat diberi nama atau dikaitkan dengan konsep belajar-mengajar: tutorial, pengajaran, berprogram, studi individual.

2)      N=2-20. Kelompok belajar kecil, mungkin terdiri atas 2 sampai 20 siswa. Kalau besarnya kelompok ini, biasanya metode belajarnya kita sebut metode diskusi atau seminar.

3)      N=2-40. Berikutnya besar kelompok mungkin berkisar antara 20-40. Kalau besarnya kelompok seperti ini, biasanya secara tradisional kita sebut metode belajar-mengajar kelas.

4)      N=40. Lebih besar atau kalau ukuran kelompok melebihi 40 para pesertanya atau pendengarnya (siswa) lazim disebut audience. Metode belajar-mengajar ini lazim disebut kuliah (ceramah).

D.    BEBERAPA METODE DAN TEKNIK MENGAJAR

Metode dan teknik dapat kita bedakan berdasarkan kemungkinan luasnya penggunaan cara penyajian bahan atau pengorganisasian kegiatan belajar-mengajar. Kalau cara tersebut hanya cocok untuk bidang studi atau bagian tertentu yang spesifik, kita sebut teknik; sedangkan kalau dapat dipergunakan dalam berbagai konteks bidang studi, kita sebut metode. Cara lain untuk menyebutkan maksud yang sama biasanya disebut didaktif dan metodik.

Dewasa ini kita akan memperkenalkan beberapa diantaranya menurut jenis orientasi (maksud penggunaannya) dan besarnya ukuran kelas yang dihadapi.

a.      Model-Model Mengajar Berdasarkan Orientasinya

Joice dan Weil (Gage and Berliner, 1975:444-475) telah mengelompokkan model-model mengajar itu kedalam empat orientasi, yaitu:

  1. Information processing orientation;
  2. Social-interaction orientation;
  3. Person orientation, dan
  4. Behavior-modification orientation.

Information processing orientation, mencakup semua model mengajar yang titik beratnya mengembangkan kemampuan intelektual dan kognitif siswa dengan menggunakan proses-proses indukatif, dedukatif, pemecahan masalah dan sebagainya, yang sudah dikemukakan terdahulu.

Social-interaction orientation, mencakup berbagai model mengajar yang tujuanya diarahkan kepada kemampuan bekerjasama secara kooperatif dengan orang lain, di samping memajukan saling memahami dalam kehidupan suatu kelompok sosial satu sama lain.

Person orientation, mencakup model-model mengajar seperti yang dikembangkan oleh para penganut humanistic education. Sasaranya ialah untuk memberikan kesempatan perkembangan pribadi, kreativitas, dan kehangatan atau vitalitas (semangat hidup) setiap individu siswa yang bersangkutan.

Behavior-modification orientation, mencakup berbagai metode mengajar yang ditunjukan dan dititikberatkan pada perubahan-perubahan perilaku kearah yang diharapkan guru, seperti yang telah kita pelajari dari mereka yang mempelopori exspository and mastery learning.

b.      Beberapa Metode Mengajar

Seperti telah banyak kita singgung metode yang paling banyak digunakan oleh para guru, antara lain metode ceramah, metode diskusi, pengajaran kelas, dan pengajaran individual.

1)      Metode Ceramah

 

PENGERTIAN

Metode ceramah atau kuliah merupakan suatu cara belajar-mengajar di mana bahan disajikan oleh guru secara monologue sehingga pembicaraan lebih bersifat satu arah. Adapun siswa memiliki keterbatasan dalam memperhatikan, mendengarkan, mencamkan, dan kalau perlu diberi kesempatan menjawab dan atau mengemukakan pertanyaan.

 

PROSEDUR

Lankah-langkah penyelenggaraannya bersifat ekspositoris (seperti telah dijelaskan terdahulu), yaitu preparasi, introduksi, presentasi, konklusi (dan evaluasi).

  1. Preparasi. Guru memilih topik (pokok bahasan) yang diperinci ke dalam beberapa subtopik (outline)
  2. Introduksi. Guru menciptakan situasi (dengan gerak-gerik, mimik, pertanyaan, pernyataan/cerita singkat dalam tempo sekitar lima menit).
  3. Presentasi. Bagian ini adalah badan dari metode ceramah, sedangkan introduksi merupakan kepalanya.
  4. Konklusi. Bagian ini merupakan kaki dari metode ceramah. Pada taraf ini guru mengemukakan resume, atau pokok-pokok bahasan secara konklusif.
  5. Evaluasi. Untuk mendapatkan umpan balik dari audience, guru biasanya dapat menggunakan beberapa teknik, antara lain dengan jalan bertanya kepada audience dan menunjuk beberapa dari mereka secara acak untuk menjawabnya; atau memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan dimintakan kepada audience lain untuk menjawabnya atau oleh guru sendiri (kalau dipandang perlu).

KEBAIKAN DAN KELEMAHAN

Berbagai studi menunjukan bahwa metode ceramah ini efektif menyajikan bahan yang bersifat informatif atau teoritis dan tidak memerlukan ingatan yang harus tahan lama; disampaikan kepada kelompok siswa yang lebih besar dari 40 orang; sumber-sumber pelajaran sulit didapat (amat terbatas); fasilitas ruangan dan tenaga guru terbatas.

Sedangkan kelemahannya, diantaranya ialah terbatasnya kesempatan partisipasi siswa; hanya bersifat mentaly processing saja (itu pun bagi mereka yang mempunyai kemampauan daya tangkap dan kecocokan latar belakang dengan permasalahan yang dibicarakan).

2). Metode Diskusi

PENGERTIAN

Metode diskusi merupakan cara lain dalam belajar-mengajar, di mana guru dan siswa, bahkan antar siswa terlibat dalam suatu proses interaksi secara aktif dan timbal balik dari dua arah baik dalam perumusan masalah, penyampaian informasi, pembahasan maupun dalam pengambilan kesimpulanya.

PROSEDUR DAN TEKNIK

Prinsipnya, metode diskusi mengikuti langkah-langkah cara pemecahan masalah, lebih jauh lagi teknik-teknik pendekatan seperti kita pelajari terdahulu bahwa langkah-langkah secara garis besar adalah sebagai berikut.

a). pre-discussion (sebelum diskusi)

sepertihalnya untuk ceramah, guru hendaknya membuat persiapan. Pada tarap persiapan ini tugas guru antara lain:

  1. Memilih atau menetapkan tema, atau sekurang-kurangnya mengidentifikasi sejumlah pokok-pokok masalah yang merupakan alternatif untuk dipilih dan didiskusikan;
  2. Mengidentifikasi dan menetapkan satu atau beberapa sumber bahan bacaan atau informasi yang hendaknya dibaca atau dipelajari siswa;
  3. Menetapkan atau menyediakan alternatif komposisi dan struktur komunikasi kelompok diskusi.
  4. Menetapkan atau menyediakan alternatif kepemimpinan diskusi pada guru atau para siswa.

b). During the meeting (selama berlangsungnya diskusi)

Langkah-langkahnya seperti telah digariskan dalam pola pendekatan masalah enquiry discovery approach.

1). Dalam pola Teacher Centrality

  1. Guru berperan sebagai:
  • Intiator, mengantarkan dan menampilkan masalah untuk didiskusikan;
  • Director, mengarahkan pembicaraan kepada pokok persoalan yang harus dipecahkan;
  • Moderator, mengatur lalu lintas pembicaraan dan memantulkan kembali permasalahan kepada peserta;
  • Encourager, mendorong dan memberikan semangat kepada semua peserta untuk memberikan kontribusi dan berpartisipasi;
  • Evaluator, harus selalu menilai kemajuan yang telah dicapai dalam pembicaraan, menyiimpulkan pendapat dan mengakhiri kegiatan sesuai dengan tahapan-tahapan kegiatan serta waktu yang tersedia.

b). Siswa berperan sebagai;

  • Kontributor, dengan memberikan informasi, sumbangan pemikiran dengan bertanya ataupun menjawab pertanyaan;
  • Pembanding atau penyanggah, dengan memberikan pendapat lain yang berbeda dan atau menunjukan kelemahan-kelemahan argumentasi orang lain;
  • Evaluator, dapat juga saling menilai seberapa jauh keberhasilan diskusi dan taraf pemecahan masalah yang dicapai.

     2). Dalam pola Student Centrality

a)      Guru berperan sebagai:

  • Intiator, menampilkan rambu-rambu masalah untuk didiskusikan;
  • Orang sumber atau konsultan, memberikan informasi dan berbicara jika memang sangat diperlukan;
  • Encourager, memberikan semangat kalau kelompok kurang menunjukan kemajuan;
  • Observasi dan evaluator, mengobservasi dan menilai keberhasilan proses dan hasil pemecahan masalahnya.

b). Siswa berperan sebagai:

  • Moderator (sebagian dipilih oleh kelompoknya), bertugas mengarahkan dan memimpin diskusi, mengatur lalulintas pembicaraan dan memantulkan permasalahan kepada peserta;
  • Encourage, mengatur pembagian kesempatan dan mendorong rekan-rekanya berbicara;
  • Kontributor, member bahan informasi, sumbangan pikiran secara konstruktif bagi pemecahan masalah yang dihadapi;
  • Evaluator, menilai kemajuan jalannya pembicaraan (bagian partisipasi) dan tingkat pemecahan yang dicapai.

c). After the meeting (setelah selesai diskusi) 

  1. Guru dan siswa bersama menilai kemajuan yang dicapai, baik mengenai proses maupun tingkat pemecahan masalah yang dicapai
  2. Guru dan siswa menetapkan langkah selajutnya apa yang harus dikerjakan setelah diskusi dilaksanakan, misalnya, diskusi lanjutan, pengumpulan informasi, penilaian, observasi, percobaan atau uji coba dan sebagainya.

KEBAIKAN DAN KELEMAHAN

Seprti telah ditunjukan oleh Ausubel dan beberapa hasil studi mengenai hal ini, metode ini telah memberikan manfaat ganda antara lain:

  • Memungkinkan penguasaan perilaku kognitif (process mental, logical, reasoning, berpikir kritis) yang labih tinggi;
  • Menumbuhkan sikap saling memahami, tenggang rasa, mengendalikan diri melalui proses sosialisasi yang demokratis;
  • Menguatkan daya ingat (retensi), memudahkan transfer, menumbuhkan motif intrinsik untuk belajar;
  • Memupuk semangat kerja sama dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi melalui proses berpikir secara kelompok.

3). Metode Pengajaran yang Beroriaentasi pada Individu Siswa

     PENGERTIAN

  Metode pendekatan belajar-mengajar ini dapat mengandung dua konotasi, yaitu:

a)      Sebagai pengajaran yang diprogramkan dan diberikan kepada siswa secara perseorangan atau

b)      Sebagai pengajaran yang memperhatikan dan disesuaikan kepada karakteristik perbedaan individual siswa.

PROSEDUR

a)      Belajar mandiri karena program studi setiap orang bersifat mandiri, hampir tiada ikatan kegiatan seoarang siswa dengan lainnya. Tiap orang langsung berhubungan dengan guru atau tutornya.

b)      Belajar dengan penyesuaian pada individu. Program studi untuk keperluan belajar dengan metode ini biasanya masih ada kaitan dengan kelompoknya, namun pelaksanaannya disesuaikan dengan kecepatan, minat, dan kebutuhan siswa yang bersangkutan.

KELEMAHAN DAN KEBAIKANYA

Dipandang dari segi filosofis-belajar atau pendidikan yang mengutamakan prinsip perkembangan potensi individu yang seoptimal mungkin, dan perubahan berdasarkan kriteria yang ditentukan, metode belajar-mengajar ini memang sangat cocok.

Akan tetapi, untuk Negara berkembang tampaknya wajar kalau masih dalam taraf panduan, mengingat program pengajarannya untuk menggunakan metode belajar-mengajar ini memerlukan pengembangan yang cermat.

4). Metode Interaksi Belajar-Mengajar dalam Konteks Kelas.

Di dalam realita bagian terbesar dari sitem belajar-mengajar di Indonesia masih berpola kepada belajar dalam konteks interaksi di kelas yang terdiri dari sekitar 30-40 siswa. Oleh karena itu pula, yang paling mungkin dilakukan oleh para guru ialah menggunakan ketiga pola metode belajar-mengajar tersebut diatas secara elektik atau kombinasi menurut keperluannya, sesuai dengan jenis atau bidang studi dan kemampuan guru, serta pasilitas pendukung yang tersedia.

E.     MENETAPKAN STRATEGI EVALUASI BELAJAR-MENGAJAR

Tujuan akhir dari tindakan evaluasi, serta bagaimana mengembangkan dan memilih instrumennya yang memenuhi syarat telah kita bahas dalam unit-unit terdahulu. Yang menjadi persoalan sekarang , kapan pengukuran dan evaluasi itu dilakukan, serta bagaimana menafsirkan hasilnya bagi pengambilan keputusan dan tindakan selanjutnya.

a)      Beberapa Model Desain Pelaksanaan Evaluasi Belajar

Berdasarkan maksud atau fungsinya terdapat beberapa model desain pelaksanaan evaluasi belajar-mengajar. Di antaranya ialah evaluatif; sumatif, formatif, reflektif, dan kombinasi dari ketiganya.

Evaluatif sumatif ialah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan setelah berakhirnya kegiatan belajar-mengajar, atau sering juga kita kenal dengan istilah lain, post test. Asumsi yang mendasarinya ialah bahwa hasil belajar itu merupakan totalitas sejak awal sampai akhir, sehingga hasil akhir itu dapat kita asumsikan dengan hasil.

Evaluasi formatif ialah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan selama masih berjalanya proses kegiatan belajar-mengajar.

Evaluasi reflektif ialah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan sebelum proses belajar-mengajar dilakukan atau sering kita kenal dengan sebutan pre-test.

Penggunaan teknik pelaksanaan evaluasi itu secara kombinasi dapat dan sering juga dilakukan terutama antara reflektif dan sumatif atau model pre-post test design. Tujuan penggunaan model dilaksanakan evaluasi ini ialah apabila kita ingin mengetahui taraf keefektivan proses belajar-mengajar yang bersangkutan. Dengan cara demikian, kita akan mungkin mendeteksi seberapa jauh kontribusi dari komponen-komponen yang terlibat dalam proses belajar-mengajar tersebut, tetapi lebih komprehensif.

b)     Beberapa Cara untuk Menginterpretasikan Hasil Penilaian

Untuk dapat menafsirkan hasil penilaian itu, kita memerlukan patokan atau ukuran baku atau norma. Dalam evaluasi, kita mengenal dua norma yang lazim dipergunakan untuk menimbang taraf keberhasilan belajar-mengajar, yaitu apa yang disebut (1) criterion referenced, dan (2) norm referenced.

Criterion referenced evaluation (PAP=Penilaian Acuan Patokan) merupakan cara mempertimbangkan taraf keberhasilan siswa dengan memperbandingkan pretasi yang dicapainya dengan kriteria yang telah ditetapkan lebih dahulu.

Sedangkan Norm referenced evaluation (PAN=Penilaian Acuan Normal), merupakan cara mempertimbangkan taraf keberhasilan belajar siswa, dengan jalan memperbandingkan prestasi individual siswa dengan rata-rata prestasi temannya, lazimnya kelompoknya.

Atas dasar kedua norma itulah seseorang dinyatakan lulus atau tidak lulus; atau berhasil atau tidak berhasil (pass-fail). Norma kelulusan itu biasanya disebut bata lulus (passing grade).

Dalam criterion referenced evaluation (PAP) angka batas lulus itu lazimnya dipergunakan angka nilai 6 dalam skala 10 atau 60 dalam skala 100, atau 2+ dalam skala -4, atau  C dalam skala A-E.

Dalam Norm reference evaluation  (PAN), norm itu dapat dipergunakan dengan berbagai cara, misalnya (1) ukuran rata-rata prestasi kelompoknya, (2) ukuran penyebaran nilai prestasi kelasnya, dan (3) ukuran penyimpangan dari ukuran rata-rata prestasi kelompoknya (maen, range, and standard deviation).

1). Beberapa model ukuran rata-rata prestasi kelompok

a)      Mean  (ukuran rata-rata hitung), dapat dicari dengan jalan membagi jumlah nilai dari seluruh anggota kelompok (∑fxi) dengan jumlah anggota kelompok yang bersangkutan (N). kalau dinyatakan dengan formula ialah sebagai berikut:

Mean (X)= (∑fxi)

                 N              

Kalau dalam kurikulumnya diadakan sistem pembobotan (weighing) seperti dengan menggunakan sistem kredit (SKS), sebelumnya dijumlahkan, setiap nilai hendaknya dikalikan dahulu dengan bobotnya (W). selanjutnya maka formulanya menjadi:

X= (∑fxiW)

N

b)      Median,ialah suatu titik yang membagi dua (50% di atas dan 50% di bawah) dari keseluruhan jumlah anggota kelompok. Angka titik tengah ini dapa diperoleh dengan jalan menambahkan angka 1 pada jumlah seluruh peserta (N), kemudian dibagi 2. Dengan formula dapat dinyatakan:

 

Median(Mdn) = N+1      ATAU

         2

Mdn = Nilai tertinggi + Nilai terendah

2

c)      Mode ialah hasil suatu klasifikasi nilai (yang sama) yang paling banyak anggota yang memperoleh nilai tersebut atau frekuensinya (f)

Dengan diketahuinya ukuran rata-rata ini, kita dapat membandingkan apakah nilai yang dicapai oleh seseorang (siswa) itu mendekati atau sangat jauh dibawah atau di atas nilai rata-rata tersebut.

2).  Beberapa model ukuran penyebaran (distribusi angka nilai prestasi kelompok)

a)      Range, ialah jarak rentangan antara score tertinggi (maksimum) dan nilai score terendah (minimum). Range diperoleh dengan formula:

 

Rentangan = nilai tertinggi – nilai terendah

Range = maximum score – minimum score

b)      Centile ialah suatu titik yang menunjukan berapa persen dari keseluruhan jumlah anggota kelompok tersebut. Misalnya, yang berada dibawah quartil pertama (Q1) menunjukan bahwa 25% dari keseluruhan anggota kelompok di bawah angka atau titik tersebut. Biasanya sebagai patokan-patokan penyebaran digunakan Q1, Q2, Q3. Berapa banyak anggota kelompok yang termasuk ke dalam quartil yang bersangkutan, dapat dicari dengan formula:

 

 

Q1 = (N + 1); Q2 = Q3 – Q1; Q3 = 3(N + 1)

4                              2                        4

 

 

3). Beberapa model penyimpangan dari ukuran rata-rata hitung.

a)      Average Deviation (AD), deviasi rata-rata, diperoleh dengan formula:

 

A.D = ∑f(X1 – X)

       N

 

b)      Simpangan baku atau standard deviation (SD), dapat diperoleh dengan mengoperasikan formula sebagai berikut:

 

 

SD (σ) =

        N

Disamping itu, dengan diketahuinya nilai mean (rata-rata hitung) dan standard deviation (simpanan baku), akan memungkinkan guru untuk mengadakan konversi mengubah nilai mentah (raw score) kedalam nilai skala-10 atau 100. Misalnya untuk keperluan pelaporan hasil evaluasinya, dengan menetapkan angka batas lulus yang berada di daerah antara +0,25 dan -0,25 dengan asumsi bahwa mean (rata-rata) berada pada titik 0 (nihil). Salah satu model tabel konversi ialah sebagai berikut:

SD (σ) mean

 

 

Skala – 10

Skala – 100

2,25 σ + X

 

10

100

1,75 σ + X

 

9

90

1,25 σ + X

 

8

80

0,75 σ + X

 

7

70

0,25 σ + X

 

-0,25 σ + X

 

6

 

60

-0,75 σ + X

 

5

50

-1, 25 σ + X

 

4

40

-1,75 σ + X

 

3

30

-2,25 σ + X

 

2

20

-2,75 σ + X

 

1

10

 

 

F.HASIL OBSERVASI.

Dalam subab ini akan menjelaskan hasil obsevasi yang kami lakukan didua sekolah. Yang pertama kami mengunjungi sekolah MI Hidayatul Athfal yang beralamat JL. Mayjen HR E. Sukma Desa Tangkil Kabupaten Bogor. Hasil observasi ini akan diuraikan sebagai berikut:

Sehubungan dengam masalah yang dihadapi oleh seorang guru dikelas, kami mengajukan beberapa pertanyaan tentang masalah psikologi murid yang ada dikelas dalam mengikuti KBM: (1) berapa jumlah siswa? (2) karakteristik siswa yang cepat tanggap dalam KBM dikelas seperti apa? (3) karakteristik siswa yang lambat dalam KBM dikelas seperti apa? (4) faktor apa yang menyebabkan siswa kurang tanggap menerima prsoses KBM dikelas? (5) bagai mana cara bapak untuk menghadapi siswa yang bermasalah agar siswa tersebut bisa menjadi siswa yang diharapkan?

Terhadap pertanyaan pertama bahwa jumlah siswa kelas 1 ada 32 siswa diantaranya 18 laki laki dan 14 perempuan.

Terhadap prtanyaan kedua bahwa karakteristik siswa yang cepat tanggap dalam KBM itu adalah siswa yang suka memperhatikan ketika guru sedang menyampaikan materi.

Terhadap pertanyaan ketiga karakteristik siswa yang lambat tanggap dalam KBM itu, siswa yang banyak bermain dan banyak bercanda ketika guru sedang menyampaikan materi.

Terhadap pertanyaan keempat yang menjadi faktor utama siswa yang lambat tanggap dalam KBM yaitu kemalasan siswa itu sendiri dalam belajar dan kebanyakan bermain.

Terhadap pertanyaan kelima cara guru di MI.Hidayatul Athfal menghadapi siswa yang bermasalah yaitu dengan cara:

-          Diberikan nasihat terhadap siswa yang bersangkutan

-          Pendekatan dengan siswa tersebut

-          Mencari latar belakang mengapa siswa itu bermasalah

 

 Sedangkam hasil obsevasi yang kami Yang kedua kami mengunjungi sekolah MTS Sirojul Athfal yang beralamat JL. Mayjen HR E. Sukma Desa Tangkil Kabupaten Bogor. Hasil observasi ini akan diuraikan sebagai berikut:

Sehubungan dengam masalah yang dihadapi oleh seorang guru dikelas, kami mengajukan beberapa pertanyaan tentang masalah psikologi murid yang ada dikelas dalam mengikuti KBM: (1) berapa jumlah siswa? (2) karakteristik siswa yang cepat tanggap dalam KBM dikelas seperti apa? (3) karakteristik siswa yang lambat dalam KBM dikelas seperti apa? (4) faktor apa yang menyebabkan siswa kurang tanggap menerima prsoses KBM dikelas? (5) bagai mana cara bapak untuk menghadapi siswa yang bermasalah agar siswa tersebut bisa menjadi siswa yang diharapkan?

Terhadap pertanyaan pertama siswa di MTS Sirojul Athfal berjumlah 45 diantaranya 20 laki laki dan 25 perempuan.

Terhadap pertanyaam kedua karakteristik siswa yang cepat tanggap dalam KBM dikelas itu siswa yang suka menanya balikan materi kepada guru yang menyampaikan.

Terhadap pertanyaan ketiga karakteristik siswa yang lambat dalam KBM dikelas itu siswa yang suka melamun atau tidak memperhatikan ketika guru menyampaikan materi karena kurang mengerti.

Terhadap pertanyaan keempat faktor yg menyebabakan siswa kurang tanggap menerima proses KBM dikelas yaitu sering menggunakan HP ketika KBM,pulang belum waktunya (kabur).

Terhadap pertanyaan kelima yaitu cara guru di MTS Sirojul Athfal menghadapi siswa yang bermasalah yaitu dengan cara:

-          Diberikan nasihat dengan cara dipanggil

-          Diberitahukan kepada orang tuanya

-          Diberikan surat peringatan.

KESIMPULAN

Setiap guru memiliki peranan penting dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas.guru juga harus memiliki wawasan yang luas,menguasai ilmu yang akan diajarkan sekaligus memiliki keterampilan untuk mengajar.disamping itu guru bertanggung jawab mengarahkan sasaran sistem pendidikannya kepada pembentukan warga Negara yang cukup untuk memahami,menghayati,dan mengamalkan sila-sila yang menjadi dasar Negara kita.

Serta guru juga hendaknya tidak membuat jarak yang tidak terlalu tajam dengan siswa.hendaknya menempatkan diri berdampingan dengan siswa sebagai senior yang selalu siap menjadi orang sumber dan yang paling terpenting guru harus mengetahui dan menguasai metode beljar mengajar agar kegitan belajar mengajar berjalan sesuai tujuan dan harapkan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Makmun Abin Syamsudin. 2007. Psikologi Kependidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

By sutrisnablog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s