UNSUR-UNSUR INTRINSIK , FEMINIS, POSKOLONIAL, DAN BIOGRAFI TOKOH

Pengantar

 

Yang dimaksud unsur-unsur Intrinsik adalah unsur-unsur pembangun karya sastra yang dapat ditemukan di dalam teks karya sastra itu sendiri. Sedangkan yang dimaksud Analisis Intrinsik adalah mencoba memahami suatu karya sastra berdasarkan informasi-informasi yang dapat ditemukan di dalam karya sastra itu atau secara eksplisit terdapat dalam karya sastra. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa suatu karya sastra menciptakan dunianya sendiri yang berberda dari dunia nyata. Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia karya sastra merupakan fiksi yang tidak berhubungan dengan dunia nyata. Karena menciptakan dunianya sendiri, karya sastra tentu dapat dipahami berdasarkan apa yang ada atau secara eksplisit tertulis dalam teks tersebut. Pada umumnya para ahli sepakat bahwa unsur intrinsik terdiri dari:     Tokoh dan  penokohan / perwatakan tokoh, Tema dan amanat,  Latar, Alur, Sudut pandang/gaya penceritaaan Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas unsur-unsur tersebut. 

1. TOKOH

Yang dimaksud dengan Tokoh adalah individu ciptaan/rekaan pengarang yang mengalami peristiwa-peristiwa atau lakukan dalam berbagai peristiwa cerita. Pada umumnya tokoh berwujud manusia, dapat pula berwujud binatang atau benda yang diinsankan.  Berdasarkan fungsi tokoh dalam cerita, tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan.

Tokoh sentral adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita. Tokoh sentral dibedakan menjadi dua, yaitu:

  1. Tokoh sentral protagonis  adalah tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai pisitif.
  2. Tokoh sentral antagonis. Tokoh sentral antagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif.

 

 

 

Tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung atau membantu tokoh sentral. Tokoh bawahan dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. Tokoh andalan adalah tokoh bawahan yang menjadi kepercayaan tokoh sentral (protagonis atau antagonis).
  2. Tokoh tambahan adalah tokoh yang sedikit sekali memegang peran dalam peristiwa cerita.
  3. Tokoh lataran adalah tokoh yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja.

Berdasarkan cara menampikan perwatakannya, tokoh dalam cerita dapat dibedakan menjadi dua,  yaitu:

  1. Tokoh datar/sederhana/pipih Yaitu tokoh yang diungkapkan atau disoroti dari satu segi watak saja. Tokoh ini bersifat statis, wataknya sedikit sekali berubah, atau bahkan tidak berubah sama sekali (misalnya tokoh kartun, kancil, film animasi).
  2.  Tokoh bulat/komplek/bundar Yaitu tokoh yang seluruh segi wataknya diungkapkan. Tokoh ini sangat dinamis, banyak mengalami perubahan watak.

 2.  PENOKOHAN

Yang dimaksud Penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh. Ada beberapa metode penyajian watak tokoh, yaitu:

  1. Metode analitis/langsung/diskursif Yaitu penyajian watak tokoh dengan cara memaparkan watak tokoh secara langsung.
  2.  Metode dramatik/tak langsung/ragaan Yaitu penyajian watak tokoh melalui pemikiran, percakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang. Bahkan dapat pula dari penampilan fisiknya serta dari gambaran lingkungan atau tempat tokoh.
  3.  Metode kontekstual Yaitu penyajian watak tokoh melalui gaya bahasa yang dipakai pengarang.

 

 

 

 

3.   ALUR

Alur adalah urutan atau rangkaian peristiwa dalam cerita rekaan. Urutan peristiwa dapat tersusun berdasarkan tiga hal,  yaitu:

  1. Berdasarkan urutan waktu terjadinya. Alur dengan susunan peristiwa berdasarkan kronologis kejadian disebut alur linear.
  2. Berdasarkan hubungan kausalnya/sebab-akibat. Alur berdasarkan hubungan sebab-akibat disebut alur kausal.
  3. Berdasarkan tema cerita. Alur berdasarkan tema cerita disebut alur tematik.

Struktur Alur

Setiap karya sastra tentu saja mempunyai kekhususan rangkaian ceritanya. Namun demikian, ada beberapa unsur yang ditemukan pada hampir semua cerita. Unsur-unsur tersebut merupakan pola umum alur cerita. Pola umum alur cerita adalah:

  1. Bagian awal: (1). paparan (exposition) (2). Rangsangan (inciting moment) 3. gawatan (rising action).
  2. Bagian tengah: (1). tikaian (conflict)  (2). rumitan (complication) (3). Klimaks.
  3.  Bagian akhir: (1). leraian (falling action) (2). selesaian (denouement)

Bagian Awal Alur

Jika cerita diawali dengan peristiwa pertama dalam urutan waktu terjadinya, dikatakan bahwa cerita itu disusun ab ovo. Sedangkan jika yang mengawali cerita bukan peristiwa pertama dalam urutan waktu kejadian dikatakan bahwa cerita itu disusun in medias res.Penyampaian informasi pada pembaca disebut paparan atau eksposisi.  Jika urutan konologis kejadian yang disajikan dalam karya sastra disela dengan peristiwa yang terjadi sebelumnya, maka dalam cerita tersebut terdapat alih balik/sorot balik/flash back. Sorot balik biasanya digunakan untuk menambah tegangan/gawatan, yaitu ketidak pastian yang berkepanjangan dan menjadi-jadi. Dalam membuat tegangan, penulis sering menciptakan regangan, yaitu proses menambah ketegangan emosional, sering pula menciptakan susutan, yaitu proses pengurangan ketegangan. Sarana lain yang dapat digunakan untuk menciptakan tegangan adalah padahan (foreshadowing), yaitu penggambaran peristiwa yang akan terjadi.

Bagian Alur Tengah

Tikaian adalah perselisihan yang timbul sebagai akibat adanya dua kekuatan yang bertentangan. Perkembangan dari gejala mula tikaian menuju ke klimaks cerita disebut rumitan. Rumitan mempersiapkan pembaca untuk menerima seluruh dampak dari klimaks. Klimaks adalah puncak konflik antar tokoh cerita.

Bagian Akhir Alur

Bagian sesudah klimaks adalah leraian, yaitu peristiwa yang menunjukkan perkembangan peristiwa ke arah selesaian. Selesaian adalah bagian akhir atau penutup cerita.Dalam membangun peristiwa-peristiwa cerita, ada beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan agar alur menjadi dinamis. Faktor-faktor penting tersebut adalah  (a).  faktor keboleh jadian (pausibility). Yaitu peristiwa-peristiwa cerita sebaiknya meyakinkan, tidak selalu realistik tetapi masuk akal. Penyelesaian masalah pada akhir cerita sesungguhnya sudah terkandung atau terbayang di dalam awal cerita dan terbayang pada saat titik klimaks. (b). Faktor kejutan, Yaitu peristiwa-peristiwa sebaiknya tidak dapat secara langsung ditebak/dikenali oleh pembaca. (c).  Faktor kebetulan, Yaitu peristiwa-peristiwa tidak diduga terjadi, secara kebetulan terjadi. Kombinasi atau variasi ketiga faktor tersebutlah yang menyebabkan peristiwa-peristiwa cerita menjadi dinamis. Selain itu ada hal yang harus dihindari dalam alur, yaitu lanturan atau digresi. Lanturan atau digresi adalah peristiwa atau episode yang tidak berhubungan dengan inti cerita atau menyimpang dari pokok persoalan yang sedang dihadapi dalam cerita.

Macam Alur

Pada umumnya orang membedakan alur menjadi dua, yaitu Alur maju dan Alur mundur. Yang dimaksud Alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian. Sedangkan yang dimaksud Alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian. Pembagian seperti itu sebenarnya hanyalah salah satu pembagian jenis alur yaitu pembagian alur berdasarkan urutan waktu. Secara lebih lengkap dapat dikatakan bahwa ada tiga macam alur, yaitua: (a)  alur berdasarkan urutan waktu. (b).  alur berdasarkan urutan sebab-akibat. (c).  alur berdasarkan tema. Dalam cerita yang beralur tema setiap peristiwa seolah-olah berdiri sendiri. Kalau salah satu episode dihilangkan cerita tersebut masih dapat dipahami.

Dalam hubungannya dengan alur, ada beberapa istilah lain yang perlu dipahami. Pertama, alur bawahan. Alur bawahan adalah alur cerita yang ada di samping alur cerita utama. Kedua, alur linear. Alur linear adalah rangkaian peristiwa dalam cerita yang susul-menyusul secara temporal. Ketiga, alur balik. Alur balik sama dengan sorot balik atau flash back. Keempat, alur datar. Alur datar adalah alur yang tidak dapat dirasakan adanya perkembangan cerita dari gawatan, klimaks sampai selesaian. Kelima, alur menanjak. Alur menanjak adalah alur yang jalinan peristiwanya semakin lama semakin menanjak atau rumit. 

4.  LATAR

Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar meliputi penggambaran letak geografis (termasuk topografi, pemandangan, perlengkapan, ruang), pekerjaan atau kesibukan tokoh, waktu berlakunya kejadian, musim, lingkungan agama, moral, intelektual, sosial, dan emosional tokoh.

Macam Latar

Latar dibedakan menjadi dua, yaitu:

  1. Latar fisik/material. Latar fisik adalah tempat dalam ujud fisiknya (dapat dipahami melalui panca indra). Latar fisik dapat dibedakan menjadi dua, yaitua: (a). Latar netral, yaitu:  latar fisik yang tidak mementingkan kekhususan waktu dan tempat. (b). Latar spiritual, yaitu: latar fisik yang menimbulkan dugaan atau asosiasi pemikiran tertentu.
  2.  Latar sosial. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok sosial dan sikap, adat kebiasaan, cara hidup, bahasa, dan lain-lain.

FUNGSI  LATAR

Ada beberapa fungsi latar, antara lain:

  1. memberikan informasi situasi sebagaimana adanya.
  2.  memproyeksikan keadaan batin tokoh.
  3. menciptakan suasana tertentu.
  4. menciptakan kontras 

5.  TEMA  DAN  AMANAT

Gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra disebut tema. Ada beberapa macam tema, yaitua: (a). Ada tema didaktis, yaitu: tema pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. (b).  Ada tema yang dinyatakan secara eksplisit. (c). Ada tema yang dinyatakan secara simbolik. (d).  Ada tema yang dinyatakan dalam dialog tokoh utamanya. Dalam menentukan tema cerita, pengarang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:       (a). minat pribadi. (b). selera pembaca. (c).  keinginan penerbit atau penguasa.

Kadang-kadang terjadi perbedaan antara gagasan yang dipikirkan oleh pengarang dengan gagasan yang dipahami oleh pembaca melalui karya sastra. Gagasan sentral yang terdapat atau ditemukan dalam karya sastra disebut makna muatan, sedangkan makna atau gagasan yang dimaksud oleh pengarang (pada waktu menyusun cerita tersebut) disebut makna niatan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan makna niatan kadang-kadang tidak sama dengan makna muatana. Antara lain: (a). pengarang kurang pandai menjabarkan tema yang dikehendakinya di dalam karyanya. (b). Beberapa pembaca berbeda pendapat tentang gagasan dasar suatu karta.Yang diutamakan adalah bahwa penafsiran itu dapat dipertanggungjawabkan dengan adanya unsur-unsur di dalam karya sastra yang menunjang tafsiran tersebut.

Dalam suatu karya sastra ada Tema sentral dan ada pula tema samapingan. Yang dimaksud Tema sentral adalah tema yang menjadi pusat seluruh rangkaian peristiwa dalam cerita. Yang dimaksud Tema sampingan adalah tema-tema lain yang mengiringi tema sentral. Ada tema yang terus berulang dan dikaitkan dengan tokoh, latar, serta unsur-unsur lain dalam cerita. Tema semacam itu disebut leitmotif. Leitmotif  ini mengantar pembaca pada suatu amanat.

 Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu: dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir, dapat pula secara eksplisit yaitu: dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita. 

 

 

6.   POINT OF VIEW

Bennison Gray membedakan pencerita menjadi pencerita orang pertama dan pencerita orang ketiga.

1.  Pencerita orang pertama (akuan). Yang dimaksud sudut pandang orang pertama adalah cara bercerita di mana tokoh pencerita terlibat langsung mengalami peristiwa-peristiwa cerita. Ini disebut juga gaya penceritaan akuan. Gaya penceritaan akuan dibedakan menjadi dua, yaitu:

  1. Pencerita akuan sertaan, yaitu: pencerita akuan di mana pencerita menjadi tokoh sentral dalam cerita tersebut.
  2. Pencerita akuan taksertaan, yaitu: pencerita akuan di mana pencerita tidak terlibat menjadi tokoh sentral dalam cerita tersebut.

2.  Pencerita orang ketiga (diaan).Yang dimaksud sudut pandang orang ketiga adalah sudut pandang bercerita di mana tokoh pencerita tidak terlibat dalam peristiwa-peristiwa cerita. Sudut pandang orang ketiga ini disebut juga gaya penceritaan diaan. Gaya pencerita diaan dibedakan menjadi dua, yaitu:

  1. Pencerita diaan serba tahu, yaitu pencerita diaan yang tahu segala sesuatu tentang semua tokoh dan peristiwa dalam cerita. Tokoh ini bebas bercerita dan bahkan memberi komentar dan penilaian terhadap tokoh cerita.
  2. Pencerita diaan terbatas, yaitu pencerita diaan yang membatasi diri dengan memaparkan atau melukiskan lakuan dramatik yang diamatinya. Jadi seolah-olah dia hanya melaporkan apa yang dilihatnya saja.

Kadang-kadang orang sulit membedakan antara pengarang dengan tokoh pencerita. Pada prinsipnya pengarang berbeda dengan tokoh pencerita. Tokoh pencerita merupakan individu ciptaan pengarang yang mengemban misi membawakan cerita. Ia bukanlah pengarang itu sendiri. Jakob Sumardjo membagi point of view menjadi empat macam, yaitu:

(a).  Sudut penglihatan yang berkuasa (omniscient point of view). Pengarang bertindak sebagai pencipta segalanya. Ia tahu segalanya.

(b). Sudut penglihatan obyektif (objective point of view). Pengarang serba tahu tetapi tidak memberi komentar apapun. Pembaca hanya disuguhi pandangan mata, apa yang seolah dilihat oleh pengarang.

(c).  Point of view orang pertama. Pengarang sebagai pelaku cerita.

(d). Point of view peninjau. Pengarang memilih salah satu tokohnya untuk bercerita. Seluruh kejadian kita ikuti bersama tokoh ini.

Menurut Harry Shaw, sudut pandang dalam kesusastraan mencakup.

(a). Sudut pandang fisik, Yaitu sudut pandang yang berhubungan dengan waktu dan ruang yang digunakan pengarang dalam mendekati materi cerita.

(b).  Sudut pandang mental, Yaitu sudut pandang yang berhubungan dengan perasaan dan sikap pengarang terhadap masalah atau peristiwa yang diceritakannya.

(c). Sudut pandang pribadi, Adalah sudut pandang yang menyangkut hubungan atau keterlibatan pribadi pengarang dalam pokok masalah yang diceritakan. Sudut pandang pribadi dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu pengarang menggunakan sudut pandang tokoh sentral, pengarang menggunakan sudut pandang tokoh bawahan, dan pengarang menggunakan sudut pandang impersonal (di luar cerita).

Menurut Cleanth Brooks, fokus pengisahan berbeda dengan sudut pandang. Fokus pengisahan merupakan istilah untuk pencerita, sedangkan sudut pandang merupakan istilah untuk pengarang. Tokoh yang menjadi fokus pengisahan merupakan tokoh utama cerita tersebut. Fokus pengisahan ada empat, yaitua:

  1. Tokoh utama menyampaikan kisah dirinya.
  2. Tokoh bawahan menyampaikan kisah tokoh utama.
  3. Pengarang pengamat menyampaikan kisah dengan sorotan terutama kepada tokoh utama.
  4. Pengarang serba tahu.

Kajian Feminisme

Feminis berasal dari kata ”Femme” (woman), berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak) sebagai kelas sosial (Ratna, 2004 : 184). Tujuan feminis menurut Ratna (2004 : 184) adalah keseimbangan interelasi gender. Feminis merupakan gerakan yang dilakukan oleh kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan yang dominan, baik dalam tataran politik, ekonomi, maupun kehidupan sosial lainnya. Pada dasarnya gerakan feminisme ini muncul karena adanya dorongan ingin menyetarakan hak antara pria dan perempuan yang selama ini seolah-olah perempuan tidak dihargai dalam pengambilan kesempatan dan keputusan dalam hidup. Perempuan merasa terkekang karena superioritas laki-laki dan perempuan hanya dianggap sebagai ”bumbu penyedap” dalam hidup laki-laki.

Adanya pemikiran tersebut tampaknya sudah membudaya sehingga perempuan harus berjuang keras untuk menunjukkan eksistensi dirinya di mata dunia. Dalam arti leksikal, feminisme ialah gerakaan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Feminisme ialah teori tentang persamaan antara laki-laki dan wanita di bidang politik, ekonomi, dan sosial, atau kegiataan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan wanita.

Dalam pandangan studi kultural, ada lima politik budaya feminis, yaitu:

  1. feminis liberal,memberikan intensitas pada persamaan hak, baik dalam pekerjaan maupun pendidikan,
  2. feminis radikal, berpusat pada akar permasalahan yang menyebabkan kaumperempuan tertindas, yaitu seks dan gender,
  3. feminis sosialis dan Marxis, yang pertama memberikan intensitas pada gender,sedangkan yang kedua pada kelas,
  4. feminis postmodernis, gender dan ras tidakmemiliki makna yang tetap, sehingga seolah-olah secara alamiah tidak ada laki-laki danperempuan, dan
  5. feminis kulit hitam dan non Barat dengan intensitas pada ras dankolonialisme (Ratna, 2005:228).

Dalam ilmu sastra, feminisme ini berhubungan dengan konsep kritik sastra feminis, yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisis kepada wanita. Kritik sastra feminis bukan berarti pengeritik wanita, atau kritik tentang wanita, atau kritik tentang pengarang wanita.

Arti sederhana yang dikandung adalah pengeritik memandang sastra dengan kesadaran khusus, kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan.

Membaca sebagai wanita berarti membaca dengan kesadaran membongkar praduga dan ideologi kekuasaan laki-laki yang androsentris atau patrialkal, yang sampai sekarang masih menguasai penulisan dan pembacaan sastra.

Perbedaan jenis kelamin pada diri penyair, pembaca, unsur karya dan faktor luar itulah yang mempengaruhi situasi sistem komunikasi sastra.Endraswara (2003: 146) mengungkapkan bahwa dalam menganalisis karya sastra dalam kajian feminisme yang difokuskan adalah:

  1. kedudukan dan peran tokoh perempuan dalam sastra,
  2. ketertinggalan kaum perempuan dalam segala aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan aktivitas kemasyarakatan,
  3. memperhatikan faktor pembaca sastra, bagaimana tanggapan pembaca terhadap emansipasi wanita dalam sastra.

Kolodny dalam Djajanegara (2000: 20-30) menjelaskan beberapa tujuan dari kritik sastrafeminis yaitu:

  1. dengan kritik sastra feminis kita mampu menafsirkan kembali serta menilai kembali seluruh karya sastra yang dihasilkan di abad silam;
  2. membantu kita memahami, menafsirkan, serta menilai cerita-cerita rekaan penulis perempuan.

Kuiper (Sugihastuti dan Suharto, 2002:68) juga mengungkapkan tujuan penelitian feminis sastra sebagai berikut:

  1. Untuk mengkritik karya sastra kanon dan untuk menyoroti hal-hal yang bersifat standar yang didasarkan pada patriakhar;
  2. Untuk menampilkan teks-teks yang diremehkan yang dibuat perempuan;
  3. Untuk mengokohkan gynocritic yaitu studi teks-teks yang dipusatkan pada perempuan, dan untuk mengokohkan kanon perempuan;
  4. Untuk mengeksplorasi konstruksi kultural dari gender dan identitas.

Sasaran penting dalam analisis feminism sastra sedapat mungkin berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut:

  1. Mengungkap karya-karya penulis wanita masa lalu dan masa kini agar jelas citra wanita yang merasa tertekan oleh tradisi. Dominasi budaya partikal harus terungkap secara jelas dalam analisis.
  2. Mengungkap tekanan pada tokoh wanita dalam karya sastra yang ditulis oleh pengarang pria.
  3. Mengungkapkan ideologi pengarang wanita dan pria, bagaimana mereka memandang diri sendiri dalam kehidupan nyata.
  4. Mengkaji dari aspek ginokritik, yakni memahami bagaimana proses kreatif kaum feminis. Apakah penulis wanita akan memiliki kekhasan dalam gaya dan ekspresi atau tidak.
  5. Mengungkap aspek psikoanalisa feminis, yaitu mengapa wanita, baik tokoh maupun pengarang, lebih suka pada hal-hal yang halus, emosional, penuh kasih sayang dan sebagainya.

Selden (Pradopo, 1991:137) menggolongkan lima fokus sasaran pengkajian sastra feminis:

  1. Biologi, yang sering menempatkan perempuan lebih inferior, lembut, lemah, danrendah;
  2. Pengalaman, sering kali wanita dipandang hanya memiliki pengalaman terbatas,masalah menstruasi, melahirkan, menyusui dan seterusnya;
  3. Wacana, biasanya wanita lebih rendah penguasaan bahasa sedangkan laki-laki memilki “tuntutan kuat”. Akibat dari semua ini akan menimbulkan stereotip yang negatif pada diri wanita, wanita sekedar kanca wingking;
  4. Proses ketidaksadaran, secara diam-diam penulis feminis telah meruntuhkan otoritas laki-laki. Seksualitas wanita besifat revolusioner, subversif, beragam, dant erbuka. Namun demikian, hal ini masih kurang disadari oleh laki-laki.
  5. Pengarang feminis biasanya sering menghadirkan tuntutan social dan ekonomi yang berbeda dengan laki-laki.

Teori Analisa Feminis

Dalam menilai karya sastra, cara yang sering dipakai adalah analisa secara tekstual. Salah satu bentuk yang lain yang juga digunakan dalam memahami karya sastra adalah analisis tekstual feminis. Analisis tekstual feminis mengandung dua hal yang penting yaitu analisis tekstual dan analisis feminis.

Perempuan menulis sendiri sebenarnya merupakan sebuah upaya untuk melakukan penilaian, mempertanyakan dan menolak pola pikir laki-laki yang selama ini ditanamkan kepada perempuan. Selain itu juga merupakan keberanian dan kekuatan untuk mengambil pilihan sehingga mengubah kritik sastra dari ‘dialog yang tertutup’ menjadi‘ dialog yang aktif’. Menjadi kritisi feminis berarti mampu membaca dengan kesadaran atas dominasi ideologi patriarki dan wacana laki-laki, dan dengan kesadaran serta keinginan untuk mendobrak dominasi tersebut.

Seorang feminis dalam karya sastra-nya dapat saja merupakan seorang yang pluralistik dalam pilihan metode serta teori sastra yang dipergunakannya, karena pada dasarnya pendekatan apapun yang dimanfaatkan, selama itu sesuai dengan tujuan politisnya.

Ada beberapa macam pendekatan analisis sastra (teks) yaitu:

  1. Kritisisme dengan perskriptif (perscriptive criticism) menawarkan sebuah cara untukmenentukan
  2. peran pembebasan yang dapat dimainkan kesusasteraan dan kritik feminis.

Menurut Cheri Register (1975), untuk menjadi feminis, sebuah teks atau karya sastra/tekstual harus memenuhi satu atau lebih fungsi di bawah ini:

  1. Sebagai suatu forum bagi perempuan. Artinya perempuan dibiarkan bebas berbicara dan menceritakan pengalamannya dan perasaannya tanpa harus berusaha untuk memenuhi standar yang ditetapkan oleh laki-laki.
  2. Membantu tercapainya androginitas budaya. Pada dasarnya gerakan feminisme ingin menciptakan tatanan sosial yang lebih menghargai nilai-nilai perempuan yang selama ini tidak cukup dihargai. Penciptaan karakter perempuan yang terlalu macho atau kejam dan mengagungkan kekuatan fisik tidaklah berarti feminis karena hal ini berarti masih berangkat dari sifat kemaskulinan.
  3. Menyediakan metode contoh teks yang feminis menyediakan ruang bagi perempuan untuk melakukan eksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru dan mengevaluasi alternatif yang terbuka bagi dirinya, dan pada saat yang sama menunjukkan bahwa pembebasan merupakan pengetahuan yang berat, yang dimulai dari diri sendiri dan diakhiri dari diri sendiri.
  4. Mempromosikan persaudaraan perempuan (sisterhood) teks, atau kritik feminisme harus memungkinkan perempuan untuk menyadari perbedaan dirinya dengan perempuan lain, dan dari pada saat yang sama menghargai persaman pengalaman dengan perempuan lain dan untuk memutuskan suatu tindakan ‘politis’.

Kritik sastra gynocritics adalah mengkonstruksi suatu suatu bingkai kerja yang akan  menganalisa perempuan dalam karya sastra (atau teks) berdasarkan pengalaman perempuan, dan bukan mengadaptasi model serta teori laki-laki. Cara ini dimulai dengan membebaskan diri dari carapandang laki-laki, menggantikannya dengan cara pandang perempuan dan mengartikulasikannya dalam budaya perempuan. Tokoh yang memperkenalkan ini adalah Elaine Showalter. Teori ini didasarkan pada pemikiran bahwa laki-laki lah yang selama ini berusaha mendefinisikan perempuan dalam budaya.

Kritik sastra feminis sosial atau kritik sastra marxis: kritik sastra feminis yang meneliti tokoh-tokoh perempuan dari sudut pandang sosialis, yaitu kelas-kelas masyarakat;

Kritik sastra gynesis, teori ini dilandaskan pada pemikiran bahwa perempuan bisa sangat patriarkal dan laki-laki pun bisa memberikan efek feminis dan seksis; atau menunjukkan bahwa pengalaman perempuan adalah milik perempuan namun seorang laki-laki sebenarnya dapat menginternalisasikan suara perempuan dan bersimpati terhadap perempuan.

Kritik sastra feminis psikoanalisis: kritik sastra yang cenderung diterapkan padatulisan-tulisan perempuan yang menampilkan tokoh-tokoh perempuan, karena para feminis percaya bahwa pembaca perempuan biasanya mengidentifikasi dirinya dengan tokoh-tokoh perempuan yang dibacanya; kritik sastra feminis ini berbeda dengan kritik-kritik yang lain; masalah kritik sastra feminis berkembang dari berbagai sumber. Untuk menerapkan diperlukan pandanganluas dalam bacaan-bacaan tentang wanita.

Bantuan ilmu lain seperti sejarah, psikologi, dan antropologi misalnya sangat diperlukan, disamping perlu dikuasai teori kritik yang sudah dimiliki sejak awal oleh kritikus feminis itu. Menurut Ratna (2005: 226) gerakan feminis secara khusus menyediakan konsep dan teori dalam kaitannya dengan analisis kaum perempuan. Sedangkan Ritzer dalam Ratna (2005:231) feminis termasuk teori sosial kritis, teori yang melibatkan diri dalam persoalan pokok dalam konteks sosial, politik, ekonomi, dan sejarah, yang sedang dihadapi oleh kelompok-kelompok yang berada dalam kondisi tertindas.

Paling tidak ada empat landasan yang bisa digunakan dalam kritik sastra dengan perspektif feminisme.

  1. kelompok feminis yang berusaha menjadi kritikus sastra dengan melihat ideologinya. Mereka ini umumnya akan menyoroti persoalan stereotip perempuan.
  2. genokritik yang mencari jawaban apakah penulis perempuan itu merupakan kelompok khusus sehingga tulisannya bisa dibedakan dengan penulis laki-laki.
  3. kelompok feminis yang menggunakan konsep sosialis dan marxis. Logikanya,bahwa perempuan itu faktanya tertindas karena tidak memiliki alat-alat produksi yang bisa digunakan untuk bisa menghasilkan uang. Akibatnya, perempuan tidak memilikikekuasaan dalam keluarga.
  4. menggunakan psiko-analisis yang diambil dari Sigmund Freud. Bagi kelompok feminis ini, perempuan iri terhadap laki-laki karena kekuasaan yang dimilikinya.

Nukilan Prosa para Feminis Jika ingin melihat jauh ke belakang lagi, R.A. Kartini (1899) sudah memulainya lebih dahulu: “Adikku harus merangkak, bila hendak berlalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah ia turun duduk di tanah dengan menundukkan kepala sampai aku tak terlihat lagi. Mereka hanya boleh menegurku dengan bahasa kromo inggil. Tiap kalimat haruslah diakhiri dengan “sembah”. Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini dan Kardinah) tidak ada tatacara itu lagi. Perasaan kami sendirilah yang akan menunjukkan atau menentukan sampai batas mana cara liberal itu boleh dijalankan.” (surat Kartini kepada Stella dalam Habis Gelap Terbitlah Terang). Di era 70-an,

Marjanne Katoppo menulis Raumanen. Karya yang cukup fenomenal pada masanya ini, mengisahkan romansa Manen dan Monang. Manen yang hamil tidak juga mendapat kepastian dari Monang untuk menikahinya, malah Monang hendak menikahi gadis lain pilihan keluarganya. Manen tidak sanggup menerima malu dari lingkungannya, akhirnya bunuh diri.

Perhatikan nukilan prosa liris karya Linus Suryadi AG (1978-1980) berikut, yang ditulis diera yang  hampir sama dengan Raumanen: “Ya, ya, Pariyem saya Maria Magdalena Pariyem lengkapnya “Iyem” panggilan sehari-hari Wonosari di Gunung Kidul pada mulanya dan pada akhirnya sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono Di nDalem Suryamentraman Ngayogyakarta Kini patutan satu sama putranya Hidungnya bangir, matanya tajem Persis, jan pleksama Den Baguse Ario Atmojo

(Pengakuan Pariyem Dunia Batin Seorang Wanita Jawa hal. 178 ) Dikisahkan tokoh Pariyem

yang seorang babu, mengandung anak putra juragannya. Diarela disetubuhi oleh Den Bagus Ario Atmojo hingga hamil. Pariyem tak menuntut apa-apa. Untungnya, dikisahkan saat sidang keluarga karena kehamilan Pariyem, keluarga besar Cokro Sentono mau menerima. Bayangkan bagaimana jika cerita yang terjadi sebaliknya? Seperti kisah-kisah serupa yang nyata ada di lingkungan kita, babu yang bersangkutan malah dipecat dan diusir jauh-jauh agar tidak mempermalukan nama keluarga. Bayi Pariyem dipelihara di desa asalnya, di Gunung Kidul. Tanpa dinikahi ia kembali bekerja dinDalem Suryametraman Ngayogyakarta sebagai babu, tanpa diangkat sebagai selirsekalipun. Di banyak bagian dalam prosa ini, dituliskan Pariyem kerap bertutur “saya legalila” (Bahasa Jawa = saya rela iklas).

Kini, bandingkan prosa liris tersebut dengan nukilan Menyusu Ayah (2004) dan Permainan Tempat Tidur (2003) berikut. Perhatikan kalimat ini: “Dengan cepat kutikam pisau itu ke perut lelaki itu. Ia sangat kaget sekaligus menahan sakit. Sprei yang berwarna putih kini menjelma merah darah. Aku mencium lelaki itu dengan lembut.

(cerpen “Permainan Tempat Tidur”, Maya Wulan). Dalam cerpen tersebut Maya Wulan menggambarkan adegan ranjang nyaris secara detil sebanyak tiga halaman.

Perhatikan pula kalimat ini: “Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah dari laki-laki. Karena, saya tidak mengisap puting payudara ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Saya menyedot mani Ayah.”

(cerpen “Menyusu Ayah”, Djenar Maesa Ayu).

Itu hanyalah nukilan dari sekian banyak karya Djenar yang berbau-bau seks. Ada persamaan dalam kedua karya tersebut, di akhir cerita tokoh utama sama-sama membunuh laki-lakinya karena telah menyakiti tokoh secara seksual. Harus diakui, ada perbedaan mendasar di antara nukilan karya tersebut. Pertama; karya tersebut ditulis dalam masa yang berbeda.

Kedua; perbedaan gender penulisnya. Tidak ada pemberontakan sedikitpun dalam tokoh Pariyem, sedang Nayla dan tokoh aku (perempuan) dalam karya Maya Wulan, sangatlah melawan, bahkan berani membunuh laki-lakinya.

Marjanne Katoppo mungkin belum seberani Djenar ataupun Maya Wulan ketika menulis Raumanen, maka ia  memutuskan Manen membunuh dirinya sendiri daripada membunuh Monang dan masuk penjara.  Keberanian yang timbul sangat terasa berkembang dari masa ke masa, yang pasti gender penulis berpengaruh kuat terhadap karya yang ditulisnya. Jika Pengakuan Pariyem ditulis oleh penulis yang berbeda gender (baik dalam masa 70-an, apalagi dalam masa sekarang), maka kami yakin tidak begitu jalan ceritanya.

Seorang laki-laki bisa saja menulis sastra feminis, tetapi belum tentu ia bisa mendapat esensi keinginan kesetaraan gender, sekalipun ia seorang feminis. Ada banyak hal yang tidak dialami laki-laki yang terjadi pada perempuan, dimulai dari perubahan tubuhnya sendiri seumur hidup, reaksi masyarakat terhadap status dirinya, reaksi diri perempuan terhadap adat budaya, juga pencarian pengakuan terhadap karya-karyanya. Bagaimana cerita diakhiri adalah bentuk perlawanan dan tuntutan kesetaraan gender yang dilakukanoleh tokoh perempuan.

POSKOLONIAL

Sehari semalam lalu aku masih diliputi kemegahan Eropa, kini kudapati diriku dikelilingi orang-orang Melayu berbaju norak, berparfum memeningkan kepala, di atas kapal besi besar bau minyak bak rongsokan hanyut. Kawan, inilah aku, berpeluh-peluh di bawah cerobong asap, baru saja ditinggalkan masa-masa jaya. Keluh Andrea Hirata dalam Mariama Karpov Mimpi-Mimpi Lintang (2008).

Wacana sastra Indonesia masih belum beranjak dari sekedar pergumulan simbolis yang minim makna pembebasan. Yang berkembang hanya berputar di sekitar wilayah ‘sastra perempuan’ (karya-karya yang dituliskan oleh perempuan dekade terakhir ini yang dianggap sebagai kebangkitan baru pengarang perempuan), sastra koran (kritik dan karya sastra yang biasa terbit setiap minggu di koran-koran Indonesia), ‘sastra wangi’ (karya dari pengarang perempuan yang biasanya bertema seks), atau misalnya perdebatan antara sastra realis (seperti karya-karya Pramudya) atau eksperimental (diwakili paling tidak oleh Iwan Simatupang dan Putu Wijaya).

Di antara semuanya, ‘realisme’lah yang kemudian melahirkan tokoh sastra terkemuka kelas dunia, Pramudya Ananta Tuor. Berkali-kali ia menjadi nominator peraih nobel sastra. Ia menunjukkan kualitasnya dari karya-karya yang ia sebut sendiri sebagai ‘realisme sosialis’. Selain Pramudya nampaknya belum ada karya yang lahir dari penulis-penulis berikutnya yang bisa ‘diperhitungkan’.

Tetapi dalam tulisan ini kita tidak akan ‘mengukur’ kualitas-kualitas karya itu. Bukan kompetensi penulis. Lagi pula kualitas itu adalah subjektifitas yang mengalami (membacanya). Tulisan ini hanya mempertanyakan betapa banyak tren sastra yang telah silih berganti memasuki ruang sastra kita di Indonesia namun demikian sedikit yang coba bermain di wilayah sosial yang lebih membebaskan. Juga mempertanyakan pendirian sastra yang selalu hanya menunjukkan wataknya yang ‘borjuis’, jauh dari problem-problem sosial masyarakat banyak. Mengapa tidak berkembang model sastra yang lebih menyuarakan persoalan-persoalan sosial, penindasan atau kemiskinan? Mengapa yang berkembang justru ‘sastra wangi’ atau ‘sastra koran’ yang menunjukkan eksistensinya sebagai pengetahuan elitis di tengah masyarakat Indonesia yang sedang didera kebangkrutan pada banyak hal? Tidak adakah alternatif sastra yang bisa dikembangkan untuk problem sastra dan sosial di Indonesia sekarang?

Pemikir Poskolonial Awal

Tulisan ini hendak menjawab pertanyaan terakhir di atas. Untuk menjawab pertanyaan terakhir ini saya akan memberikan satu jawaban alternatif yang nampaknya minimal; sastra poskolonial. Sebentuk wacana sastra yang mencoba mengkaji masalah kolonialisme dan apa yang telah ditinggalkannya dalam struktur kebudayaan masyarakat pascakolonial.

Alternatif kajian ini banyak dikembangkan utamanya oleh intelektual dari negara-negara pascakolonial. Seperti India ada Gayatri Spivak, Leela Ghandi, Ania Loomba, Homi Bhaba, dll. Palestina, dan inilah yang dianggap menyediakan basis untuk kritik nalar kolonialisme melalui karya babonnya, Orientalisme, Edward Said. Dari afrika ada Frantz Fanon. Edwar Said, Spivak, Bhaba dan Frantz Fanon dianggap banyak kalangan sebagai faunding father’s dari kajian baru ini. Edward Said menggemparkan dunia intelektual dengan karyanya orientalisme pada 1978. Selang sepuluh tahun setelah terbitnya buku Frants Fanon, Black skin ad white mask (1960-an). Orientalisme adalah buku yang mengkaji orientalisme sebagai bagian dari proyek penguasaan (kolonialisme dan imperialisme) barat yang tertuang dalam teks-teks barat tentang dunia timur (oriental).

Dengan meminjam analisis Fuchoult tentang relasi pengetahuan dan kekuasaan, Said, menemukan adanya relasi antara pengetahuan kolonial, yang dilahirkan oleh orientalisme, dengan kuasa kolonial di negara-negara koloninya. Pada awalnya orientalisme ini seperti gerakan ilmu pengetahuan biasa yang mengkaji masyarakat, budayanya, struktur bahasanya, dll. Tetapi dalam praktiknya pengetahuan ini digunakan untuk melanggengkan kolonialisme. Bahkan Nyoman Kuta Ratna dalam buku Poskolonialisme Indonesia relevansi sastra menyebutkan ‘orientalisme tidak berbeda dengan kolonialisme atau imperialisme itu sendiri’ (2008;27). Kata Said ‘orientalisme adalah gaya barat menundukkan timur. Sejarawan, antropolog, sosiolog, sastrawan dan ilmuwan barat dengan kekuatan wacana mengkonstruksi timur sebagai inferior’ (kuta Ratna; 2008;32). Konstruksi itulah yang masih tersisa dari proses pengulang-ulangan pengetahuan tentang ‘inferioritas’ timur oleh orientalisme dalam bentuk mental, meminjam Vissia Ita Yulianto dalam pesona barat (2007) sebagai mental Inlander. Kolonialisme membentuk orientalisme ini seperti mengerahkan ‘aparatus ideologis’ negara kolonial untuk menundukkan warga pribumi yang dikoloni. Mereka memproduksi pengetahuan, kebiasaan-kebiasaan, ‘prilaku layak’, dan secara jangka pajang mengkonstruksi nalar pribumi.

Hal inilah yang ingin dibongkar oleh Said. Meruntuhkan hegemoni teori pengetahuan barat yang ternyata tidak pernah ‘netral’, namun memuat struktur ideologi tertentu yang disusupkan dengan data-data (pseudo) ilmiah. Mungkin Said ingin berpesan bahwa sudah saatnya dunia (kususnya dunia yang dikatakan timur, dunia ketiga atau negara berkembang) membuka mata akan kepalsuan metodologis barat. Dibanding melulu memuja barat, akan lebih baik meletakkannya dalam diskursus yang lebih kritis.
Bila Said melalui orientalisme, sebuah buku rumit yang ditulis melalui riset serius atas naskah-naskah kolonial, maka Spivak mengenalkan dirinya masuk menjadi intelektual poskolonial melalui artikel pendeknya berjudul ‘can the subaltern speak?’ dan bukunya A Critique of postkolonial reason. Naskah ini telah banyak dikutip sebagai contoh teks teori poskolonial (Stephen K Morton;2008).

Tulisan-tulisan Spivak yang terpenting adalah konsepsi yang berkisar pada kajian subaltern. Berangkat dari pengamatan tentang bagaimana perempuan-perempuan selatan terpinggirkan dan tidak bisa bersuara. Perempuan, petani desa, kaum terpinggirkan lainnya inilah yang disebut oleh Spivak sebagai subaltern.

Konsepsi ini sebenarnya pernah disebutkan oleh Gramsci untuk merujuk petani desa di Italia yang tersubordinasi oleh kekuatan negara. Spivak sendiri menganggap bahwa suara dan perwakilan perempuan dimarjinalkan (Morton;2008;194).

Asumsi ini lahir dari pengamatannya tentang kasus bunuh diri janda di India selatan lalu kasus bunuh diri Bhubaneswari Bhaduri di Calcutta. Kasus perempuan terakhir ini lain dari kasus bunuh diri biasanya di India. Bunuh diri biasanya disebabkan oleh hamil di luar nikah yang bagi warga India itu dianggap tabu. Tetapi bunuh diri yang dilakukan ini tidak memperlihatkan ia hamil karena saat ditemukan ia sedang menstruasi. Tetapi dia tetap diduga bunuh diri karena hamil.

Dugaan ini sepenuhnya salah setelah sepuluh tahun. Bukti ditemukan bahwa perempuan ini seorang anggota samitis, organisasi yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan India. Dia dipercaya melakukan pembunuhan politis yang gagal dilaksanakannya. Mungkin inilah yang menyebabkan Bhubaneswari bunuh diri. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan tetapi tidak bisa disuarakan. Dalam tubuhnya yang mati seolah merupakan ‘teks sastra’ yang bercerita ‘perempuan membunuh diri adalah sebuah resistensi yang tidak dikenal’. (Morton;197)

Berangkat dari tidak adanya ruang bersuara bagi subaltern inilah Spivak memulai kajiannya dalam lingkup poskolonial. Sebuah awal yang suci untuk melakukan dekolonisasi di dunia selatan agar semua elemen bisa berbicara dan bisa bersuara, termasuk perempuan subaltern.

Konsepsi subaltern ini adalah pandangannya yang kritis tentang kondisi poskolonial. Utamanya nasionalisme poskolonial. Dia berpendapat bahwa kemerdekaan politik banyak bekas koloni Eropa pada abad ke-20 gagal mengarahkan kelompok-kelompok subaltern yang tertindas, seperti kaum perempuan, kaum tani, kaum miskin desa atau orang buta huruf pada kemerdekaan sosial (Morton;9). Tentunya ini sebuah kegelisahan eksistensial yang mengagumkan dari seorang anak yang lahir dari tanah yang juga pernah dijajah kolonial Eropa tetapi mampu bangkit melakukan proses dekolonisasi. Dia adalah contoh intelektual yang memiliki nafas panjang terus melakukan kritik-kritik teoritis atas konsepsi teoritis barat yang mengandung secara inheren narasi kolonial dan imperialisme. Begitu mengagumkannya seorang sastrawan yang menulis dengan kritis dan substantif bagi sebuah makna pembebasan manusia.

Fanon menulis dengan nada yang marah. Bumi berantakan (2000), buku karyanya, disebut sebagai pegangan bagi revolusi hitam yang sukses di negerinya; Aljazair. Buku ini adalah kecaman bagi kulit putih dan barat agar sadar bahwa kolonalisme telah berakhir. Bukunya telah menginspirasi praktik-praktik revolusi dan reorganisasi sosial. Fanon adalah seorang psikiater kulit hitam yang sukses keluar dari kolonisasi mental yang dikonstruksi oleh kolonialisme, bahkan mengorganisir dan menginspirasi gerakan-gerakan dekolonisasi Afrika.

 

Sastra Poskolonial

Tokoh-tokoh yang diceritakan dengan singkat disini kira-kira telah memberi harapan bagi bangkitnya kesadaran intelektual negara-negara berkembang termasuk Indonesia untuk bergegas dan berusaha menyadarkan dirinya dari kooptasi pengetahuan kolonial. Orang-orang ini telah membuktikan bahwa pengetahuannya terbukti benar. Bahwa kolonialisme belum pernah berakhir. Dia masih terus ada, terutama di dalam batok kepala oang-orang pascakolonial di Negara-negara berkembang.

Dalam ranah sastra pendekatan poskolonial ini banyak digunakan oleh sastrawan terkemuka. Sebut misalnya V.S Naipaul dalam Sebuah Rumah Untuk Tuan Biswas, Naguib Mahfus dengan Harafisy, Kantapura karya Raja Rao dari India, dan mungkin karya-karya Jumpha Lahiri yang belakangan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tentunya ini sebuah kemajuan. Novel-novel raksasa yang memiliki kekuatan berbicara dan bersuara tentang posisi poskolonialitas yang demikian kompleks. Pendeknya narasi-narasi ini ingin menyampaikan perlawanan kepada politik sastra kolonial. Pertanyaannya, sudah adakah penulis Indonesia yang mulai memakai pendekatan poskolonial dalam karyanya? Menurut Katrin Bandel dalam Sastra, Perempuan, Seks (2006) bahwa dalam novel cantik itu luka karya Eka Kurniawan terdapat unsur-unsur poskolonialitas. Novel ini, katanya, menggunakan perspektif baru tentang sejarah dan tentang realisme. Apa yag kemudian disebut oleh Bandel (2006) sebagai ‘realisme magis’. Teks ‘realisme magis’ sudah lama ditenggelamkan oleh kolonialisme dalam prakteknya menumpas kelompok-kelompok tarekat dan azimat di seluruh Hindia Belanda. Mungkin ini yang coba diangkat oleh Eka Kurniawan dalam Cantik itu luka. Bahwa sejarah tidak mesti linier dan positifis seperti dalam ilmu sosial Eropa pada umumnya, ada ruang untuk yang magis dan real.

Yang lain mudah-mudahan menyusul dengan karya yang lebih kuat, lebih banyak dibaca dan lebih membangun proses dekolonisasi nalar, dan melakukan pembebasan dari keterjajahan. Sastra poskolonial sudah memperlihatkan dirinya dengan niat tulus untuk melaksanakan proyek dekolonisasi dalam nalar teks-teks negeri pascakolonial. Poskolonialitas yang, kata Bhaba, sebagai ‘ruang antara’ atau kondisi liminalitas menuju merdeka sepenuhnya. Diintrodusir dari istilah psikologi untuk menunjukkan ruang antara alam sadar dan alam bawah sadar. Dalam konsepsi sastra poskolonial, nalar kita berada dalam ‘ruang antara’, ruang liminalitas, antara pra kemerdekaan menuju kemerdekaan sepenuhnya.

Kita berharap untuk segera merdeka sepenuhnya. Tidak melulu terjebak dalam kubangan pascakolonial yang tak selesai-selesai. Harus ada dekolonisasi agar tidak terjangkit inferiority complex seperti karya Andrea Hirata tetralogi Laskar Pelangi yang tidak pernah merasa bisa apa-apa terkecuali dia masuk bergabung dalam kafilah modernitas yang selalu hanya ada di Eropa, di desa Edensor atau di kampus Sorbonne, Paris. Andrea, mungkin, termakan, meminjam isilah Said, teks-teks predatoris kolonialisme yang menanam penyakit inferiority complex jauh di dalam ‘batok kepalanya’. Mungkin inilah yang ingin dilakukan oleh teoritisi sastra vissiposkolonial; membebaskan nalar inlander yang ada dalam batok kepala kita.

 

BIOGRAFI TOKOH

Biografi WS Rendra

Nama Pena       : WS Rendra

Nama Lengkap : Willibrordus Surendra Broto Rendra Tarikh

Lahir               : Solo, 7 Nopember 1935

Agama             : Islam

Isteri                : Ken Zuraida

Pendidikan     : SMA St. Josef, Solo – Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah

Mada, Yogyakarta – American Academy of Dramatical Art, New York, USA

(1967)

Karya-Karya Drama:

– Orang-orang di Tikungan Jalan

– SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor

– Oedipus Rex – Kasidah Barzanji

– Perang Troya tidak Akan Meletus

Karya Sajak/Puisi:

– Jangan Takut Ibu

– Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)

– Rick dari Corona

– Potret Pembangunan Dalam Puisi

– Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta

– Pesan Pencopet kepada Pacarnya

– Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)

– Perjuangan Suku Naga

Kegiatan Lain:

Anggota Persilatan PGB Bangau Putih Dianugerahi UGM Doktor Honoris Causa Dianugerahi UGM Doktor Honoris

 

Causa Penghargaan:

– Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957)

– Anugerah Seni dari Departemen P & K (1969)

– Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975)

Biodata:

W.S Rendra dilahirkan di Solo, 7 November 1935. Beliau mendapat pendidikan di Jurusan Sastera Barat Fakultas Sastra UGM (tidak tamat), kemudian memperdalam pengetahuan mengenai drama dan teater di American Academy of Dramatical Arts, Amerika Syarikat (1964-1967). Sekembali dari Amerika, beliau mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta dan sekaligus menjadi pemimpinnya. Tahun 1971 dan 1979 dia membacakan sajak-sajaknya di Festival Penyair International di Rotterdam. Pada tahun 1985 beliau mengikuti Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman. Kumpulan puisinya; Ballada Orang-orang Tercinta (1956), 4 Kumpulan Sajak (1961), Blues Untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1980), Disebabkan Oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung (1993) dan Perjalanan Aminah (1997).

Sajak

Sajak Sebatang Lisong menghisap sebatang lisong melihat Indonesia Raya mendengar 130 juta rakyat dan di langit dua tiga cukung mengangkang berak di atas kepala mereka matahari terbit fajar tiba dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan aku bertanya tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang macet dan papantulis-papantulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan delapan juta kanak-kanak menghadapi satu jalan panjang tanpa pilihan tanpa pepohonan tanpa dangau persinggahan tanpa ada bayangan ujungnya menghisap udara yang disemprot deodorant aku melihat sarjana-sarjana menganggur berpeluh di jalan raya aku melihat wanita bunting antri uang pensiunan dan di langit para teknokrat berkata : bahwa bangsa kita adalah malas bahwa bangsa mesti dibangun mesti di up-grade disesuaikan dengan teknologi yang diimpor gunung-gunung menjulang langit pesta warna di dalam senjakala dan aku melihat protes-protes yang terpendam terhimpit di bawah tilam aku bertanya tetapi pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon yang bersajak tentang anggur dan rembulan sementara ketidak adilan terjadi disampingnya dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan termangu-mangu di kaki dewi kesenian bunga-bunga bangsa tahun depan berkunang-kunang pandang matanya di bawah iklan berlampu neon berjuta-juta harapan ibu dan bapak menjadi gemalau suara yang kacau menjadi karang di bawah muka samodra kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing diktat-diktat hanya boleh memberi metode tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan kita mesti keluar ke jalan raya keluar ke desa-desa mencatat sendiri semua gejala dan menghayati persoalan yang nyata inilah sajakku pamplet masa darurat apakah artinya kesenian bila terpisah dari derita lingkungan apakah artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan RENDRA ( itb bandung – 19 agustus 1978 )

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya, bahwa hartaku hanya titipan Nya, bahwa putraku hanya titipan Nya, tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku? Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ? Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita. Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku. Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika : aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan Nikmat dunia kerap menghampiriku. Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku, Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah… “ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja” (WS Rendra).

 

 

Aku tulis pamplet ini aku tulis pamplet ini karena lembagga pendapat umum ditutup jaring  labah-labah orang-orang bicara dalam kasak-kusuk, dan ungkapan diri ditekan menjadi peng-iya-an apa yang terpegang hari ini bisa luput besok pagi ketidak pastian merajalela diluar kekuasaan kekuasaan menjadi teka-teki, menjadi marabahaya, menjadi isi kebon binatang. Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam. Lembaga pendapat umum tidak mengandung perdebatan dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan. Aku tulis pamplet ini karen pamplet bukan tabu bagi penyair. Aku inginkan merpati pos, aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku, aku ingin membuat isyarat asap kaum indian, aku tidak melihat alasan kenapa harus diam tertekan dan termangu, aku ingin secara wajar kita bertukar kabar duduk berdebat menyatakan setuju atau tidak setuju kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran? Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan, ketegangan telah telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka, matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api, rembulan memberi mimpi pada dendm gelombang, angin menyingkapkan keluh kesah yang teronggok bagai sampah kegambangan, kecurigaan, ketakutan, kelesuan. Aku tulis pamplet ini karena kawan dan lawan adalah saudara didalam alam masih ada cahaya matahari yang tenggelam diganti rembulan lalu besok pagi pasti terbit kembali dan didalam air lumpur kehidupan aku melihat bagai terkaca : ternyata kita, toh, manusia!  Rendra (pejambon jakarta, 27 apri l1978)

 

 

Bi ografi Justina Ayu Utami

 

Justina Ayu Utami (lahir di bogor, Jawa Bara, 21 November 1968) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesi.

Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor, dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalistis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.

Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.

Karier dan kegiatan

  • Wartawan lepas Matra
  • Wartawan Forum Keadilan
  • Wartawan D&R
  • Anggota Sidang Redaksi Kalam
  • Kurator Tearter Utan Kayu
  • Pendiri dan Anggota Aliansi Jurnalis Independen
  • Peneliti di Institut Studi Arus Informasi
  • Novel Saman, KPG, Jakarta, 1998
  • Novel Larung, KPG, Jakarta, 2001
  • Kumpulan Esai “Si Parasit Lajang”, GagasMedia, Jakarta, 2003
  • Novel Bilangan Fu, KPG, Jakarta, 2008
  • Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998
  • Prince Claus Award 2000

Karya

Penghargaan

Biografi Sapardi Djoko Damono

Prof.Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir di Surakarta, 20 Maret 1940) adalah seorang Pujangga Indonesia terkemuka. Ia dikenal dari berbagai puisi-puisi yang menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer.

Riwayat hidup

Masa mudanya dihabiskan di Surakarta (lulus SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958). Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.  Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi Dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah “Horison”, “Basis”, dan “Kalam”.

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.

Ia menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri.

Karya-karya

Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa daerah. Ia tidak saja menulis puisi, namun juga cerita pendek. Selain itu, ia juga menerjemahkan berbagai karya penulis asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.

Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet “Dua Ibu”). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.

Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.

Kumpulan Puisi/Prosa

  • “Duka-Mu Abadi”, Bandung (1969)
  • “Lelaki Tua dan Laut” (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
  • “Mata Pisau” (1974)
  • “Sepilihan Sajak George Seferis” (1975; terjemahan karya George Seferis)
  • “Puisi Klasik Cina” (1976; terjemahan)
  • “Lirik Klasik Parsi” (1977; terjemahan)
  • “Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak” (1982, Pustaka Jaya)
  • “Perahu Kertas” (1983)
  • “Sihir Hujan” (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
  • “Water Color Poems” (1986; translated by J.H. McGlynn)
  • “Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono” (1988; translated by J.H. McGlynn)
  • “Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
  • “Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia” (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
  • “Hujan Bulan Juni” (1994)
  • “Black Magic Rain” (translated by Harry G Aveling)
  • “Arloji” (1998)
  • “Ayat-ayat Api” (2000)
  • “Pengarang Telah Mati” (2001; kumpulan cerpen)
  • “Mata Jendela” (2002)
  • “Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?” (2002)
  • “Membunuh Orang Gila” (2003; kumpulan cerpen)
  • “Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an – 1910an)” (2005; salah seorang penyusun)
  • “Mantra Orang Jawa” (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
  • “Before Dawn: the poetry of Sapardi Djoko Damono” (2005; translated by J.H. McGlynn)
  • “Kolam” (2009; kumpulan puisi)

Selain menerjemahkan beberapa karya Kahlil Gibran dan Jalaluddin Rumi ke dalam bahasa Indonesia, Sapardi juga menulis ulang beberapa teks klasik, seperti Babad Tanah Jawa dan manuskrip I La Galigo. kobe

Musikalisasi Puisi

Musikalisasi puisi karya SDD dimulai pada tahun 1987 ketika beberapa mahasiswanya membantu program Pusat Bahasa, membuat musikalisasi puisi karya beberapa penyair Indonesia, dalam upaya mengapresiasikan sastra kepada siswa SLTA. Saat itulah tercipta musikalisasi Aku Ingin oleh Ags. Arya Dipayana dan Hujan Bulan Juni oleh H. Umar Muslim. Kelak, Aku Ingin diaransemen ulang oleh Dwiki Dharmawan dan menjadi bagian dari “Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti” (1991), dibawakan oleh Ratna Octaviana.

Beberapa tahun kemudian lahirlah album “Hujan Bulan Juni” (1990) yang seluruhnya merupakan musikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono. Duet Reda Gaudiamo dan Ari Malibu merupakan salah satu dari sejumlah penyanyi lain, yang adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Album “Hujan Dalam Komposisi” menyusul dirilis pada tahun 1996 dari komunitas yang sama.

Sebagai tindak lanjut atas banyaknya permintaan, album “Gadis Kecil” (2006) diprakarsai oleh duet Dua Ibu, yang terdiri dari Reda Gaudiamo dan Tatyana dirilis, dilanjutkan oleh album “Becoming Dew” (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu.

Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata “Ars Amatoria” yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD serta karya beberapa penyair lain.

Buku

  • “Sastra Lisan Indonesia” (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
  • “Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan”
  • “Dimensi Mistik dalam Islam” (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel “Mystical Dimension of Islam”, salah seorang penulis.

Pustaka Firdaus

  • “Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia” (2004), salah seorang penulis.
  • “Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas” (1978).
  • “Politik ideologi dan sastra hibrida” (1999).
  • “Pegangan Penelitian Sastra Bandingan” (2005).
  • “Babad Tanah Jawi” (2005; penyunting bersama Sonya Sondakh, terjemahan bahasa Indonesia dari versi bahasa jawa karya Yasadipura, Balai Pustaka 1939).

Karya Puisi

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..

Biografi Dewi Dee Lestari

Dewi Lestari Simangunsong yang akrab dipanggil Dee (lahir di Bandung, Jawa Barat, 20 Januari 1976) adalah seorang penulis dan penyanyi asal Indonesia. Lulusan jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan ini awalnya dikenal sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi. Sejak menerbitkan novel Supernova yang populer pada tahun 2001, ia juga dikenal luas sebagai novelis.

Karier menyanyi

Dee terlahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara dari pasangan Yohan Simangunsong dan Turlan br Siagian (alm). Sejak kecil Dee telah akrab dengan musik. Ayahnya adalah seorang anggota TNI yang belajar piano secara otodidak. Sebelum bergabung dengan Rida Sita Dewi (RSD), Dee pernah menjadi backing vocal untuk Iwa K, Java Jive dan Chrisye. Sekitar bulan Mei 1994, ia bersama Rida Farida dan Indah Sita Nursanti bergabung membentuk trio Rida Sita Dewi (RSD) atas prakarsa Ajie Soetama dan Adi Adrian.

Trio RSD meluncurkan album perdana, Antara Kita pada tahun 1995 yang kemudian dilanjutkan dengan album Bertiga (1997). RSD kemudian berkibar di bawah bendera Sony Music Indonesia dengan merilis album Satu (1999) dengan nomor andalan antara lain, “Kepadamu” dan “Tak Perlu Memiliki”. Menjelang akhir tahun 2002, RSD mengemas lagu-lagu terbaiknya ke dalam album The Best of Rida Sita Dewi dengan tambahan dua lagu baru, yakni “Ketika Kau Jauh” ciptaan Stephan Santoso/Inno Daon dan “Terlambat Bertemu”, karya pentolan Khaitna, Yonie Widianto. Pada tahun 2006, Dee meluncurkan album berbahasa Inggris berjudul Out Of Shell, dan tahun 2008 melucurkan album RectoVerso,Album Ini mengundang Arina Mocca berduet di lagu Aku Ada dan berduet di lagu “Peluk” dengan Aqi Alexa. Hits besarnya adalah “Malaikat Juga Tahu”. Di Album ini juga Dee merilis ulang lagu milik Marcell Siahan berjudul “Firasat”.

Karier Menulis

Sebelum Supernova keluar, tak banyak orang yang tahu kalau Dee telah sering menulis. Tulisan Dee pernah dimuat di beberapa media. Salah satu cerpennya berjudul “Sikat Gigi” pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tahun 1993, ia mengirim tulisan berjudul “Ekspresi” ke majalah Gadis yang saat itu sedang mengadakan lomba menulis dimana ia berhasil mendapat hadiah juara pertama. Tiga tahun berikutnya, ia menulis cerita bersambung berjudul “Rico the Coro” yang dimuat di majalah Mode. Bahkan ketika masih menjadi siswa SMU 2 Bandung, ia pernah menulis sendiri 15 karangan untuk buletin sekolah.

Novel pertamanya yang sensasional, Supernova Satu : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, dirilis 16 Februari 2001. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar ini banyak menggunakan istilah sains dan cerita cinta. Bulan Maret 2002, Dee meluncurkan “Supernova Satu” edisi Inggris untuk menembus pasar internasional dengan menggaet Harry Aveling (60), ahlinya dalam urusan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris.

Supernova pernah masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books. Bersaing bersama para sastrawan kenamaan seperti Goenawan Muhammad, Danarto lewat karya Setangkai Melati di Sayap Jibril, Dorothea Rosa Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri karya Hujan Menulis Ayam dan Hamsad Rangkuti karya Sampah Bulan Desember.

Sukses dengan novel pertamanya, Dee meluncurkan novel keduanya, Supernova Dua berjudul “Akar” pada 16 Oktober 2002. Novel ini sempat mengundang kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu. Umat Hindu menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam bukunya. Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada cetakan ke 2 dan seterusnya.

Pada bulan Januari 2005 Dee merilis novel ketiganya, Supernova episode PETIR. Kisah di novel ini masih terkait dengan dua novel sebelumnya. Hanya saja, ia memasukkan 4 tokoh baru dalam PETIR. Salah satunya adalah Elektra, tokoh sentral yang ada di novel tersebut.

Lama tidak menghasilkan karya, pada bulan Agustus 2008, Dee merilis novel terbarunya yaitu RECTOVERSO yang merupakan paduan fiksi dan musik. Tema yang diusung adalah Sentuh Hati dari Dua Sisi. Recto Verso-pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan. Saling melengkapi. Buku RECTOVERSO terdiri dari 11 fiksi dan 11 lagu yang saling berhubungan. Tagline dari buku ini adalah Dengar Fiksinya, Baca Musiknya. Website khusus mengenai ulasan buku RECTOVERSO ada di http://www.dee-rectoverso.com

Pada Agustus 2009, Dee menerbitkan novel Perahu Kertas.

Kehidupan pribadi

Dee menikah dengan penyanyi R&B, Macell Siahaan pada 12 September tahun 2003. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Keenan Avalokita Kirana (lahir 5 Agustus 2004).

Pertengahan tahun 2008 pernikahan mereka retak karena diduga ada orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Dee menggugat cerai suaminya di Pengadilan Negeri Bale Bandung pada tanggal 27 Juni 2008.[1]

Dewi kemudian menikah lagi dengan Reza Gunawan tanggal 11 November 2008 di sydney.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s