CERITA PENDEK “TEBING”

Image

 “TEBING”

 

Siang itu terasa terik dengan sinar matahari yang terlihat semangat membakar kulit. Hawa yang panas bercampur keringat yang mengalir di sekujur tubuh. Tetesan demi tetesan cairan tubuh membasahi baju yang sebentar lagi berbau harum khas. Dehidrasi menandakan bahwa dahaga yang sedang membara dan meminta sesuatu yang segar, cair dan dingin. Melihat Ahmad, Korun, Jafar, Dan Ali. Sedang duduk-duduk santai di bawah pohon yang rindang. Merasa kegerahan mereka segera mencari air untuk memuaskan dahaganya yang membara.

Lalu salah satu dari mereka ali menaiki pohon yang ada di belakangnya itu. Ali disuruh oleh ahmad untuk menaiki pohon dan mencari tempat sungai yang terdekat. Ketika ali sampai di atas pohon ali meneropong kesetiap sudut dan mencari dimana letak sungai berada. Setelah beberapa waktu ali menemukan tempat sungai itu berada. Tetapi sungai itu ada di sebrang tebing yang letaknya ada tepat di sebelah timur. Lalu Ali pun turun untuk memberitahukan teman-temannya.

Ali                   : teman-teman saya tadi sudah melihat tempat sungai itu berada.?..

Ahmad              : dimana ali?

Korun              : iya dimana?

Ali                   : di sebelah timur.

Ahmad                        : yahhh kalau gak salah itu tempatnya harus medaki tebing yang tinggi dulu.

Ali                   : itu masalahnya…

Jafar                : ayo kita kesana!

Ali                   : tapi itu berbahaya..

Ahmad            : iya itu berbahaya.

Korun              : dari pada kita kehausan

Ali                   : iya tapi gimana cara kesungai itu. Jalan kesana sangat curam sekali.

Jafar                : kita daki saja tebing itu lalu kita turun.

Ahmad            : saya kira jangan, terlalu bahaya.

Jafar                : tidak apa-apa

Ahmad            : saya punya ide kenapa kita tidak memutar saja itu lebih aman. Walau sedikit   

   jauh.

Jafar                : ahh itu terlalu jauh.

Korun              : iya itu terlalu jauh kenapa kita tak panjat tebing itu. Kan lebih dekat.

Ahmad            : emang kamu sudah punya pengalaman memanjat tebing.

Korun              : ahhh gampang bisa diatur.

Ahmad             : bukan itu yang saya minta tanggapannya. tapi apakah kamu sudah punya

  pengalaman memanjat tebing?

Jafar                : iya itumah gampang.

Ahmad            : apa menurut kamu ali?

Ali                   : terserah.

Ahmad             : bukan itu juga yang aku minta tanggapan dari kamu. Apa pendapat kamu tentang

  panjat tebing?.. Kamu mampu memanjat tebing itu?

Ali                   : ya terserah yang lain saja saya mengikuti saja. (padahal dalam hatinya memang

  tahu keadan tebing itu yang sebenarnya berbahaya)

Ahmad             : menurut saya itu tidak masuk akal dengan memanjat tanpa alat-alat yang

  memadai.

Korun              : tenang saja tidak akan terjadi apa-apa

Jafar                : iya tenang saja.

Ahmad              : yasudah!

 

Walaupun ahmad tidak setuju, tetapi Ahmad pun mengikuti mereka  menuju tebing itu. Dengan sinar matahari yang terik mereka berempat berjalan di semak-semak belukar. Jalan setapak menjadi pemandu mereka. Suara dahan pepohonan yang diterpa angin membuat daun-daun yang ada pada dahan berjatuhan. Dan suara burung berkicau menjadi nyanyian alam yang mereka dengarkan saat siang yang sangat terik itu. Setibanya di tebing Jafar, Korun, Ahmad Dan Ali. Berhenti sejenak dan memandang tebing yang mereka akan panjat. Korun dan jafar terperanga melihat tebing yang curam itu. Di dalam hati korun berkata “tebingnya tinggi dan curam” hati Korun dan Jafar bergetar saat melihat tebing itu. Lalu Ahmad menanyakan kepada Korun dan Jafar.

Ahmad              : gimana, kita harus ngapain?

Korun              : ya kita panjat tebing itu.

Ahmad             : apa tidak berbahaya? Lihat saja tebingnya tinggi dan curam. Saya tak berani

  ngambil resiko.

Korun              : tidak apa-apa. Ya tidak jafar? (padahal dalam hatinya dia menyadari bahwa

  tebing itu berbahaya)

Jafar                : iya. (jawab sambil ragu-ragu)

Ahmad            : Ali saya rasa tebing itu sangat berbahaya, kita ambil jalan pintas yang lain saja.

Korun              : jangan itu terlalu jauh. (dengan muka yang sangat jengkel)

Ahmad              : Ali jadi kamu mau gimana mau panjat tebing itu.

Ali                   : terserah saya ngikut saja. (padahal dalam hati ia tahu bahwa itu memang

  berbahaya.)

Jafar                : sudah-sudah, Ahmad kamu jangan sok tau. Ayo Ali saya kira tebing itu mudah

  kita panjat.

Ahmad              : ya sudah kalau pendapat kamu itu benar tentang tebing itu mudah dipanjat

  panjatlah. Tetapi saya mau mengambil jalan yang lain saja yang lebih baik dan   

  aman.

 

Setelah perdebatan itu Ahmad pergi dan berpisah dengan Korun, Jafar, dan Ali. Jafar yang sifatnya munafik dan arogan membawa Ali dan Korun kepada jalan yang salah dan bisa membuat mereka cedra, bahkan kehilangan nyawa. Korun yang sok tau dan Ali yang polos membuat mereka salah mengambil jalan. Jafar pun mulai mengeluarkan tabiatnya yang keras kepala dan menjelek-jelekan Ahmad yang berbeda pendapat dengannya kepada Korun dan Ali.

Jafar                : si Ahmad itu sok sudah tahu ada jalan yang mudah malah mengambil jalan yang

  jauh.

Korun              : iya dia itu sok tau.

Ali                   : tapi ada benarnya juga. Jalan ini memang berbahaya.

Jafar                : sudah kamu jangan cengeng.

Korun              : ayoo kita panjat tebing itu. Nanti kita tunjukan pada si Ahmad yang sok tau itu.

  Bahwa jalan ini mudah.

Jafar                : ayooo

 

Merekapun memanjat tebing yang tinggi dan curam itu. Tangan Jafar mulai memegang bongkahan cadas untuk memanjat. Cadas-cadas yang keras, akar-akar tumbuhan tebing menyambut tangan jafar saat tangannya mulai memanjat tebing. Bongkahan-bongkahan tebing menjadi pijakan mereka untuk memanjat. Angin yang berhembus sedikit kencang mengganggu keseimbangan pijakan Korun, Ali dan Jafar dalam memanjat. Sinar yang masih terik membuat keringat dalam tubuh berceceran di baju mereka yang mulai basah. Akibat terlalu banyaknya keluar cairan mereka mulai mengalami kelelahan saat pijakan mereka tepat berada di tengah-tengah tebing. Tebing yang tinggi tak memberikan mereka jalan yang mudah untuk dilalui. Sangat sulitnya jalan itu. Sehinga tangan Korun, Ali dan Jafar mulai kelelahan. Saat kelelahan itu Ali mulai mengalami kehilangan keseimbangan. Tangannya tak kuat lagi untuk menahan tubuhnya. Matanya mulai kabur akibat panasnya matahari. Ketika saat kaki kirinya mulai memanjat dan berpijak ternyata pijakannya itu longsor. Ali pun terpelanting kekiri dan kekanan.

Jafar                : Ali kamu tidak apa-apa?

Korun              : Ali bertahan jangan sampai jatuh.

Ali                   : tolong Jafar tangan aku tak kuat lagi menangan beban tubuhku.

Jafar                : Ali jangan lepaskan genggamanmu pada akar itu bertahannnn. Korun cepat

  bantu ali di bawah mu…

Korun              : sial kamu Jafar mana saya kuat untuk menarik Ali.

Ali                   : Korun bantu aku aku hampir jatuh.

Korun              : aku akan berusaha tapi aku juga lelahhhh…

 

Setelah terpanting ke kiri dan ke kanan Ali pun jatuh ke dasar tebing, berguling, dan terpanting keras ke dasar tebing. Ali tidak sadarkan diri. Tanganya patah, punggungnya memar kepalanya keluar darah.

Jafar                : Aliiiiii

Korun              : Alliii

Jafar                : Korun kamu kenapa tidak menolong Ali?

Korun              : kalau aku tarik Ali nanti pegangan yang aku pegang tidak akan kuat. Karena

  terlalu berat beban yang ditanggung.

Jafar                : jadi kita harus gimana?,,,

Korun              : kita tinggalkan saja…

Jafar                : sial kamu Korun. Ali teman kita

Korun              : nanti ibu dan bapaknya menylaahkan kita. Kitakan yang memilih jalan ini.

Jafar                : iya tapi kita tolong dulu. Kalau kita kabur nanti Ahmad menanyakan Ali kepada

  kita. Ayooo Korun tolong Ali. Jangan jadi pengecut kamu.

Korun              : yasudah.

 

Jafar dan Korun pun turun kembali dari tebing dan melihat keadaan Ali yang jatuh. Setelah ada di dasar tebing Karun kaget melihat keadaan Ali yang tak sadarkan diri.

Korun              : aduhhh gimana ini Jafar kita bisa dipenjara. Ali sudah meninggal

Jafar                : jangan ngomong sembarangan kamu dia masih hidup.

Korun              : ini salah kamu Jafar.kalau kamu tidak mengajak kami melalui jalan ini pasti Ali

  tidak celaka.

Jafar                : kamu jangan menyalahkan saya, jelas-jelas kamu juga setuju dengan jalan ini.

  Kamu juga turut bertanggung jawab atas ke adaan ini.

Korun              : enak saja kamu Jafar…

Jafar                : kamu jangan jadi pengecut Korun.

Korun              : pokonya aku tak mau tanggung jawab. Aku mau pergi

Jafar                : Korunnn kamu jangan pergi Ali ini bagaimana….?

Korun              : itu urusan kamu…

 

Korun pun pergi meninggalkan Jafar dan Ali. Jafar dengan keadaan panik membersihkan luka-luka yang ada pada Ali. Ali pun digendongnya untuk dibawa pulang.

 

—–

 

Setelah terpisah dari Ali, Jafar dan Korun. Ahmad memilih memutar jalan untuk menuju sungai ketimbang memilih lewat jalan tebing. Dengan jalan setapak yang berkelok-kelok dan panjang serta dihiasi semak-semak yang mulai kering terbakar sinar matahari. Dan setelah menenpuh jalan satu setengah jam Ahmad pun akhirnya tiba juga di sungai.

Ahmad            : alhamdulilah sampai juga di sungai. Airnya pasti segar ini. Cocok untuk mandi

  dan minum. Tapiiii kemana mereka yah?… Seharusnya mereka sudah sampai.

  Ah mandi dulu saja. (sambil menunggu teman-temanya Ahmad langsung

  membuka baju dan berenang ke sungai).

 

Lalu Ahmad pun melepaskan pakainya dan mulai turun ke sungai yang jernih dan segar. Ali berenang dengan gembira. Suara percikan air yang mengalir, bebatuan yang besar, arus yang tenang dan kedalaman sungai yang rendah. Membuat Ahmad merasa nyaman. Ikan-ikan kecil berenang dan kepiting yang memburu makanannya menjadi keasikan Ahmad tersendiri. Ia sangat antusias bermain dengan air dan mengamati ikan serta kepiting. Kalaupun ada ikan yang agak besar. Ia tidak akan menangkapnya. Karena menurut Ahmad semua mahluk hidup memiliki kehidupanya masing-masing. Kita sebagai manusia tidak boleh mengganggu kehidupan ikan tersebut. Apa lagi merebut haknya untuk terus hidup.

Setelah lama berenang Ahmad segera ke atas batu untuk mengeringkan tubuhnya yang basah. Sambil memakai pakainya Ahmad melihat ke kanan dan ke kiri. Ahmad mencari teman-temanya yaitu Jafar, Ali dan Korun. Dengan penuh keheranan Ahmad merasa bingung kenapa teman-temanya tak kunjung datang. Ketika waktu menunjukan waktu senja Ahmad memutuskan ubtuk pulang ke rumah. Di perjalanan menuju rumah tiba-tiba Ahmad melihat Korun yang sedang gelisah di bawah pohon yang mereka siang tadi berada.

Ahmad          : korun jafar sama ali kemana?

Korun             : Ali mad Alii?

Ahmad              : Ali kenapa?

Korun              : Ali kecelakana saat memanjat tebing.

Ahmad            : trus keadaanya gimana? Jafar dimana? Dan Ali dimana?

Korun              : Jafar dan Ali masih di tebing itu.

Ahmad              : aku segera kesana kamu beritahu orang tuanya.

Korun              : tapi…. Aku takut

Ahmad            : cepat jangan cengeng kamu.!

Korun              : baik saya akan kerumah orang tuanya.

 

Ahmad pun segera menjemput Jafar dan Ali. Diperjalanan menuju tebing Ahmad bertemu dengan Jafar yang kelelahan menggendong Ali. Ahmad langsung membantu Jafar menggendong Ali yang sedang pinsan. Setelah tidak lama kemudian orang tua ali dan warga berdatangan dan membawa Ali kerumah sakit untuk dirawat. Sekian (sutrisna)

Semoga cerita pendek itu bermanfaat. Dan kita selalu memilih jalan yang baik walaupun jalan yang baik itu ditawarkan oleh orang yang kita benci sekalipun. Karena menanggapi pendapat bukan dilihat dari siapa yang menyampaikanya. Akan tetapi apa pendapat yang disampaikannya. Baikkah atau malah sebaliknya. Walaupun itu teman kita kalau pendapatnya kurang tepat kita wajib memperbaikinya. Jangan mengikutinya. Apakah kita akan ikut kejurang kalau teman kita kejurang?…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s